Moral (Latin Morality) is a term called human to human or other person in the act of having a positive value. Humans who have no morals called amoral and immoral means he has no positive value in the eyes of other humans. So the moral is the absolute thing that must be possessed by humans. Is explicitly moral matters relating to the socialization process of individuals without a moral man can not make the process of socialization.
Moral of today have an implicit value because many people who have moral or immoral behavior from a narrow perspective. That moral nature which is taught in schools and people should have the moral if he wants to be respected by others. Moral is the value of the absolutan in social life intact. Assessment of the moral culture is measured from the local community.
Moral is the act / behavior / greeting someone in her interactions with humans. if a person does it in accordance with the prevailing sense of value in society and be accepted as well fun with their communities, then that person is considered to have good morals, and vice versa, Morality is a product of culture and religion.
Moral is a state of mind, feeling, speech, and human behavior associated with the values of good and bad.
Every form of politics must have a moral basis, namely a set of beliefs and values are being complied with. What binds the community is the belief that we are all going to regulate our actions according to moral and religious framework of a mutually agreed upon. But moral and religious framework of this joint gradually been eroded.
Today many people believe that human beings can create their own standards, that ethics is just a matter of individual feelings and choices. But if ethics is derived into a feeling of dignity, moral ties which unite the people would just disappear. People no longer have standards of behavior agreed with that, they no longer knew what to expect from others then we will see the emergence of a sense of mistrust and hostility in society.
Christians have an obligation to bring the transcendental moral values in public debate. We can see that laws are rules to regulate human behavior, from the standpoint of the State law is to uphold the truth or prove the fault of human behavior. Therefore most of the law has moral implications. The presence of the kingdom of God in society means that the presence of a community of people whose lives have become witnesses of law behind the law.
They reject relativism, believing that some things right and some things wrong, and hold on universal ethical norms, thus the presence of Christians in society became a strong fortress to defend legal sanity, and the kingdom of God is more than just a model. Kingdom of God really operate as human control over the kingdom through his people and through the most visible manifestations of his church.
The Church is the main institution with moral authority to mediate between the individual and the State, to require accountability for the implementation of State obligations towards its citizens, because when the State forget or deny the values into the original terms of the contract, in essence, it violates the contract with its citizens, because that's the church must take the initiative and requested the State responsibility.
This is the point where the conflict between the two kingdoms to be strongest. Government naturally seek power and are always trying to find his own moral legitimacy to its decisions. Inevitably, which appeared in history, the result of government efforts to impose his own moral vision on society or to act without independent control of consciences then we'll see a tyranny.Duty to disseminate the moral vision is not solely lie in the government but at other institutions in society, especially churches.
When the State overstep the limits of authority, religion becomes the only effective source of moral stamina and the church do this not with the aim to become an institution on earth but for the common good. When we say Jesus is Lord will be a serious threat to totalitarian regimes everywhere, the church has undergone many brutal attacks, among others, the closure-closure-burning and burning churches throughout the world, oppression is precisely centered on church involvement in community .
Jesus did not come to establish a political kingdom but a statement about the kingdom of God has had profound consequences for the political situation. When Jesus said to Pilate, "My kingdom is not of this world," Pilate probably breathed in relief. But he should think again, whichever is more threatening for a ruler: an external enemy forces with a powerful but invisible, or the king who ruled the human soul immortal? Options that can compromise both the desire and love, demanded absolute obedience, to give unlimited power to the slave-servants, and radically change the lives and values which they embrace.
That is why the kingdom of God has made a huge impact on the most powerful kingdom of men, though in every era.
Through these people are aware of their authority and live by ethics, the kingdom of God changed the direction of history, decided a vicious circle of violence, injustice, and selfishness, which can not be changed in other ways.
Hilangnya Moral Dalam Masyarakat
Moral (Bahasa Latin Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia.
Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya.
Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia, apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya.Moral adalah produk dari budaya dan Agama.
Moral merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk.
Setiap bentuk politik harus memiliki dasar moral, yaitu serangkaian kepercayaan dan nilai-nilai yang dipatuhi bersama. Apa yang mengikat masyarakat adalah kepercayaan bahwa kita semua akan mengatur tindakan kita menurut kerangka moral dan keagamaan yang disepakati bersama. Tetapi kerangka moral dan keagamaan bersama ini sedikit demi sedikit terkikis habis.
Saat ini banyak orang percaya bahwa manusia bisa menciptakan standar sendiri, bahwa etika hanyalah soal perasaan dan pilihan individual. Tapi bila etika diturunkan derajatnya menjadi perasaan, ikatan moral yang menyatukan masyarakat akan segera lenyap. Orang tidak memiliki lagi standar tingkah laku bersama yang disepakati, mereka tidak tahu lagi apa yang bisa diharapkan dari orang lain maka kita akan melihat timbulnya rasa ketidak-percayaan dan rasa permusuhan dalam masyarakat.
Orang Kristen memiliki kewajiban untuk membawa nilai-nilai moral transendental dalam debat umum. Kita bisa melihat bahwa hukum adalah peraturan-peraturan untuk mengatur perilaku manusia, hukum dari sudut pandang Negara adalah menegakkan kebenaran atau membuktikan kesalahan perilaku manusia. Karena itu sebagian besar hukum memiliki implikasi moral.
Kehadiran kerajaan Allah dalam masyarakat berarti hadirnya komunitas orang yang hidupnya menjadi saksi hukum dibelakang hukum. Mereka menolak relativisme, percaya bahwa sebagian hal benar dan sebagian hal salah, dan berpegang pada norma-norma etika universal, dengan demikian kehadiran orang Kristen dalam masyarakat menjadi benteng yang kuat untuk mempertahankan kewarasan legal, dan kerajaan Allah lebih dari sekedar model. Kerajaan Allah benar-benar beroperasi sebagai kendali di atas kerajaan manusia melalui orang-orangnya dan melalui manifestasinya yang paling tampak yaitu gereja-Nya.
Gereja adalah institusi utama dengan otoritas moral untuk menjadi penengah antara individual dan Negara, untuk meminta pertanggung-jawaban Negara atas pelaksanaan kewajiban terhadap warganya, karena ketika Negara lupa atau menyangkal nilai-nilai yang menjadi syarat-syarat asli dari kontrak, pada intinya itu melanggar kontrak dengan warganya, karena itulah gereja harus mengambil inisiatif dan meminta pertanggung-jawaban Negara.
Ini adalah titik di mana konflik antara dua kerajaan ini menjadi paling kuat. Pemerintah secara alamiah mencari kekuasaan dan selalu berusaha untuk mencari legitimasi moralnya sendiri untuk keputusannya. Tanpa terelakkan, yang tampak dalam sejarah, hasil usaha pemerintah untuk memaksakan visi moralnya sendiri pada masyarakat atau bertindak tanpa kendali suara hati independent maka kita akan melihat suatu tirani.
Tugas untuk menyebar-luaskan visi moral tidak semata-mata terletak pada pemerintah tapi pada institusi lain dalam masyarakat, terutama gereja.
Ketika Negara melangkahi batas otoritasnya, agama menjadi satu-satunya sumber efektif untuk daya tahan moral dan gereja melakukan ini bukan dengan tujuan untuk menjadi institusi di bumi tapi untuk kebaikan bersama. Ketika kita menyatakan Yesus adalah Tuhan itu akan menjadi suatu ancaman yang serius bagi rejim totaliter manapun, gereja sudah banyak mengalami serangan-serangan brutal antara lain penutupan-penutupan dan pembakaran-pembakaran gereja yang tersebar diseluruh dunia, penindasan tersebut justru dipusatkan pada keterlibatan gereja dalam masyarakat.
Yesus tidak datang untuk mendirikan kerajaan politis namun pernyataan tentang kerajaan Allah telah memiliki akibat yang mendalam bagi keadaan politis. Ketika Yesus berkata pada Pilatus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini,” Pilatus mungkin menghembuskan nafas lega. Tapi harusnya ia berpikir lagi, mana yang lebih mengancam bagi seorang penguasa: musuh eksternal dengan pasukan yang perkasa tapi kelihatan, atau Raja abadi yang memerintah jiwa manusia? Pilihan yang kedua bisa menguasai keinginan dan cinta, menuntut ketaatan mutlak, memberikan kekuatan yang tidak terbatas pada hamba-hambaNya, dan secara radikal mengubah kehidupan dan nilai-nilai yang mereka anut.
Itulah sebabnya mengapa kerajaan Allah memiliki pengaruh yang sangat luar biasa pada kerajaan manusia yang paling kuat sekalipun dalam tiap jaman.
Melalui orang-orang yang menyadari otoritasnya dan hidup berdasarkan etika itu, kerajaan Allah mengubah arah sejarah, memutuskan lingkaran setan kekerasan, ketidak-adilan, dan keegoisan, yang tidak dapat diubah dengan cara lain.
Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya.
Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia, apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya.Moral adalah produk dari budaya dan Agama.
Moral merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk.
Setiap bentuk politik harus memiliki dasar moral, yaitu serangkaian kepercayaan dan nilai-nilai yang dipatuhi bersama. Apa yang mengikat masyarakat adalah kepercayaan bahwa kita semua akan mengatur tindakan kita menurut kerangka moral dan keagamaan yang disepakati bersama. Tetapi kerangka moral dan keagamaan bersama ini sedikit demi sedikit terkikis habis.
Saat ini banyak orang percaya bahwa manusia bisa menciptakan standar sendiri, bahwa etika hanyalah soal perasaan dan pilihan individual. Tapi bila etika diturunkan derajatnya menjadi perasaan, ikatan moral yang menyatukan masyarakat akan segera lenyap. Orang tidak memiliki lagi standar tingkah laku bersama yang disepakati, mereka tidak tahu lagi apa yang bisa diharapkan dari orang lain maka kita akan melihat timbulnya rasa ketidak-percayaan dan rasa permusuhan dalam masyarakat.
Orang Kristen memiliki kewajiban untuk membawa nilai-nilai moral transendental dalam debat umum. Kita bisa melihat bahwa hukum adalah peraturan-peraturan untuk mengatur perilaku manusia, hukum dari sudut pandang Negara adalah menegakkan kebenaran atau membuktikan kesalahan perilaku manusia. Karena itu sebagian besar hukum memiliki implikasi moral.
Kehadiran kerajaan Allah dalam masyarakat berarti hadirnya komunitas orang yang hidupnya menjadi saksi hukum dibelakang hukum. Mereka menolak relativisme, percaya bahwa sebagian hal benar dan sebagian hal salah, dan berpegang pada norma-norma etika universal, dengan demikian kehadiran orang Kristen dalam masyarakat menjadi benteng yang kuat untuk mempertahankan kewarasan legal, dan kerajaan Allah lebih dari sekedar model. Kerajaan Allah benar-benar beroperasi sebagai kendali di atas kerajaan manusia melalui orang-orangnya dan melalui manifestasinya yang paling tampak yaitu gereja-Nya.
Gereja adalah institusi utama dengan otoritas moral untuk menjadi penengah antara individual dan Negara, untuk meminta pertanggung-jawaban Negara atas pelaksanaan kewajiban terhadap warganya, karena ketika Negara lupa atau menyangkal nilai-nilai yang menjadi syarat-syarat asli dari kontrak, pada intinya itu melanggar kontrak dengan warganya, karena itulah gereja harus mengambil inisiatif dan meminta pertanggung-jawaban Negara.
Ini adalah titik di mana konflik antara dua kerajaan ini menjadi paling kuat. Pemerintah secara alamiah mencari kekuasaan dan selalu berusaha untuk mencari legitimasi moralnya sendiri untuk keputusannya. Tanpa terelakkan, yang tampak dalam sejarah, hasil usaha pemerintah untuk memaksakan visi moralnya sendiri pada masyarakat atau bertindak tanpa kendali suara hati independent maka kita akan melihat suatu tirani.
Tugas untuk menyebar-luaskan visi moral tidak semata-mata terletak pada pemerintah tapi pada institusi lain dalam masyarakat, terutama gereja.
Ketika Negara melangkahi batas otoritasnya, agama menjadi satu-satunya sumber efektif untuk daya tahan moral dan gereja melakukan ini bukan dengan tujuan untuk menjadi institusi di bumi tapi untuk kebaikan bersama. Ketika kita menyatakan Yesus adalah Tuhan itu akan menjadi suatu ancaman yang serius bagi rejim totaliter manapun, gereja sudah banyak mengalami serangan-serangan brutal antara lain penutupan-penutupan dan pembakaran-pembakaran gereja yang tersebar diseluruh dunia, penindasan tersebut justru dipusatkan pada keterlibatan gereja dalam masyarakat.
Yesus tidak datang untuk mendirikan kerajaan politis namun pernyataan tentang kerajaan Allah telah memiliki akibat yang mendalam bagi keadaan politis. Ketika Yesus berkata pada Pilatus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini,” Pilatus mungkin menghembuskan nafas lega. Tapi harusnya ia berpikir lagi, mana yang lebih mengancam bagi seorang penguasa: musuh eksternal dengan pasukan yang perkasa tapi kelihatan, atau Raja abadi yang memerintah jiwa manusia? Pilihan yang kedua bisa menguasai keinginan dan cinta, menuntut ketaatan mutlak, memberikan kekuatan yang tidak terbatas pada hamba-hambaNya, dan secara radikal mengubah kehidupan dan nilai-nilai yang mereka anut.
Itulah sebabnya mengapa kerajaan Allah memiliki pengaruh yang sangat luar biasa pada kerajaan manusia yang paling kuat sekalipun dalam tiap jaman.
Melalui orang-orang yang menyadari otoritasnya dan hidup berdasarkan etika itu, kerajaan Allah mengubah arah sejarah, memutuskan lingkaran setan kekerasan, ketidak-adilan, dan keegoisan, yang tidak dapat diubah dengan cara lain.
Life is Full of Problems
We live in an age filled with stress. Alcoholism, drug abuse, abuse against children, changing jobs, divorce and many more that we must face. Most of these problems is a sign of someone who could not handle the pressure, they do not rise up to face Goliath with courage that God has provided for us all.Every stage of life has its pressure itself is no exception in the years of childhood and adolescence, even the suicide rate is rising among young people between the ages of thirteen and nineteen years old. Many of these young kids do not know how to handle the pressure, because their parents do not know how to handle pressure.
People who just got married and had pressures. On a pressure scale of one to one hundred, who had been married just shows the number fifty. So many adjustments that must be held as, financial adjustments, career adjustment, and adjustment of roles. Many young couples are not prepared to rise to the challenge. Even single parents (unmarried or married) also have huge pressures such as, financial challenges, loneliness, and adjustments in every area of life.
God did not give us wings to fly away from the problems. He did not lift us out of the world to keep us from the experience of pressure, but he gives us the strength to walk through the pressure and developed just as we are under pressure.
God allowed all three men of Israel, Shadrach, Meshach and Abednego to come into a burning fireplace, but he maintains them. God will not always reduce the heat stress problem, but he will always go there with us and give us the strength to overcome whatever we face.
We can resolve issues with one of four ways is very well known, namely: First run away from trouble, the two went round the problem (just to face it again later), ignore all the problems the third, fourth or face problems with courage. Which way will we choose? Behavior David in 1 Samuel 17:48, reflecting the attitude of a winner because he ran to meet Goliath.
Courage is the attitude we need when we are facing danger, difficulty or pain. Courage is the nature of standing firm and not stepping back in time to face the challenges, when we act in a spirit of courage, we will face our enemies in the belief that we will win, David has never waited to face a Goliath, but he ran to meet Goliath and beat him.
We can come to our problems the same way as David did in 1 Samuel 17:45, "But David said to the Philistine, You come to me with sword and spear and javelin, but I come to you with the name of the Lord of hosts God of all the armies of Israel that you challenge it. "
We can not run away from trouble, we can not just circling around the issues or we can not ignore every problem we face, what God wants is that we deal with all our courage, because of His promise to Joshua is the same is his promise to us "Did not I have commanded you; and strong and of good courage? Do not be afraid and lose heart. For the Lord your God is with you wherever you go. "
Hidup Penuh Dengan Masalah
Kita hidup dalam zaman yang penuh dengan berbagai tekanan. Minuman keras, penyalahgunaan obat-obatan, perlakuan kejam terhadap anak, pergantian pekerjaan, perceraian dan masih banyak lagi yang harus kita hadapi. Kebanyakan dari masalah-masalah ini merupakan tanda-tanda orang yang tak dapat mengatasi tekanan, mereka tidak bangkit untuk menghadapi Goliat dengan keberanian yang telah Allah sediakan bagi kita semua.
Setiap babak kehidupan mempunyai tekanannya sendiri tak terkecuali dalam tahun-tahun kanak-kanak dan remaja, bahkan angka bunuh diri sedang meningkat diantara kawula muda antara usia tigabelas dan sembilanbelas tahun. Banyak dari anak-anak muda ini tidak tahu bagaimana caranya mengatasi tekanan, karena orangtua mereka juga tidak tahu bagaimana mengatasi tekanan.
Orang-orang yang baru menikah mempunyai tekanan-tekanan. Pada sebuah skala tekanan dari satu hingga seratus, yang baru menikah saja menunjukan angka limapuluh. Begitu banyak penyesuaian yang harus diadakan seperti, penyesuaian keuangan, penyesuaian karir, dan penyesuaian peranan. Banyak pasangan muda tidak siap untuk bangkit menghadapi tantangan itu. Bahkan orangtua tunggal (tak bersuami atau beristri) juga mempunyai tekanan-tekanan yang besar seperti, tantangan keuangan, kesepian, dan penyesuaian pada setiap bidang kehidupan.
Allah tidak memberikan sayap kepada kita untuk terbang lari dari masalah-masalah. Ia tidak mengangkat kita keluar dari dunia untuk menghindarkan kita dari pengalaman tekanan, melainkan Ia memberikan kekuatan kepada kita untuk berjalan melewati tekanan dan dikembangkan justru sewaktu kita berada di bawah tekanan.
Allah mengijinkan ketiga orang Israel; Sadrakh, Mesakh dan Abednego untuk masuk dalam perapian yang menyala-nyala, tetapi Ia memelihara mereka. Allah tidak akan selalu menurunkan panasnya tekanan masalah, namun Ia akan selalu masuk disana bersama dengan kita dan memberikan kita kekuatan untuk mengatasi apapun yang kita hadapi.
Kita dapat mengatasi masalah-masalah dengan salah satu dari empat cara yang cukup terkenal yaitu; Pertama lari menjauh dari masalah, kedua pergi memutari masalah (hanya untuk menghadapinya kembali kemudian), ketiga abaikan semua masalah, atau yang keempat hadapi masalah dengan keberanian. Cara manakah yang akan kita pilih? Perilaku Daud di dalam 1 Samuel 17:48, mencerminkan sikap seorang pemenang karena ia berlari menemui Goliat.
Keberanian adalah sikap yang kita perlukan saat kita sedang menghadapi bahaya, kesulitan atau kesakitan. Keberanian adalah sifat berdiri teguh dan bukannya melangkah mundur pada saat menghadapi tantangan, pada saat kita bertindak dalam roh keberanian, kita akan menghadapi musuh kita dengan keyakinan bahwa kita akan menang, Daud tidak pernah menunggu untuk menghadapi seorang Goliat melainkan ia berlari menemui Goliat dan mengalahkanya.
Kita dapat mendatangi masalah-masalah kita dengan cara yang sama seperti yang Daud lakukan dalam 1 Samuel 17:45, “Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu.”
Kita tidak dapat lari dari masalah, kita tidak dapat hanya berputar-putar disekitar masalah ataupun kita tidak dapat mengabaikan setiap masalah yang kita hadapi, yang Tuhan inginkan adalah kita menghadapinya dengan segala keberanian kita, karena janji-Nya kepada Yosua adalah sama juga janji-Nya kepada kita “Bukankah telah kuperintahkan kepadamu; kuatkan dan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati. Sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.”
Setiap babak kehidupan mempunyai tekanannya sendiri tak terkecuali dalam tahun-tahun kanak-kanak dan remaja, bahkan angka bunuh diri sedang meningkat diantara kawula muda antara usia tigabelas dan sembilanbelas tahun. Banyak dari anak-anak muda ini tidak tahu bagaimana caranya mengatasi tekanan, karena orangtua mereka juga tidak tahu bagaimana mengatasi tekanan.
Orang-orang yang baru menikah mempunyai tekanan-tekanan. Pada sebuah skala tekanan dari satu hingga seratus, yang baru menikah saja menunjukan angka limapuluh. Begitu banyak penyesuaian yang harus diadakan seperti, penyesuaian keuangan, penyesuaian karir, dan penyesuaian peranan. Banyak pasangan muda tidak siap untuk bangkit menghadapi tantangan itu. Bahkan orangtua tunggal (tak bersuami atau beristri) juga mempunyai tekanan-tekanan yang besar seperti, tantangan keuangan, kesepian, dan penyesuaian pada setiap bidang kehidupan.
Allah tidak memberikan sayap kepada kita untuk terbang lari dari masalah-masalah. Ia tidak mengangkat kita keluar dari dunia untuk menghindarkan kita dari pengalaman tekanan, melainkan Ia memberikan kekuatan kepada kita untuk berjalan melewati tekanan dan dikembangkan justru sewaktu kita berada di bawah tekanan.
Allah mengijinkan ketiga orang Israel; Sadrakh, Mesakh dan Abednego untuk masuk dalam perapian yang menyala-nyala, tetapi Ia memelihara mereka. Allah tidak akan selalu menurunkan panasnya tekanan masalah, namun Ia akan selalu masuk disana bersama dengan kita dan memberikan kita kekuatan untuk mengatasi apapun yang kita hadapi.
Kita dapat mengatasi masalah-masalah dengan salah satu dari empat cara yang cukup terkenal yaitu; Pertama lari menjauh dari masalah, kedua pergi memutari masalah (hanya untuk menghadapinya kembali kemudian), ketiga abaikan semua masalah, atau yang keempat hadapi masalah dengan keberanian. Cara manakah yang akan kita pilih? Perilaku Daud di dalam 1 Samuel 17:48, mencerminkan sikap seorang pemenang karena ia berlari menemui Goliat.
Keberanian adalah sikap yang kita perlukan saat kita sedang menghadapi bahaya, kesulitan atau kesakitan. Keberanian adalah sifat berdiri teguh dan bukannya melangkah mundur pada saat menghadapi tantangan, pada saat kita bertindak dalam roh keberanian, kita akan menghadapi musuh kita dengan keyakinan bahwa kita akan menang, Daud tidak pernah menunggu untuk menghadapi seorang Goliat melainkan ia berlari menemui Goliat dan mengalahkanya.
Kita dapat mendatangi masalah-masalah kita dengan cara yang sama seperti yang Daud lakukan dalam 1 Samuel 17:45, “Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu.”
Kita tidak dapat lari dari masalah, kita tidak dapat hanya berputar-putar disekitar masalah ataupun kita tidak dapat mengabaikan setiap masalah yang kita hadapi, yang Tuhan inginkan adalah kita menghadapinya dengan segala keberanian kita, karena janji-Nya kepada Yosua adalah sama juga janji-Nya kepada kita “Bukankah telah kuperintahkan kepadamu; kuatkan dan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati. Sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.”
Mount Decision
We can be satisfied with the burning bush and rejoice in our first encounter with a supernatural God. We can be satisfied with the revelation tablets carved by hand and the wisdom of God and everything else that God's doing.
But now we have arrived at the mountain's decision, we are at the "crossroads". God has pulled us out of sin and the world.
He has united us into a people. That's really the journey in the wilderness, God created a people of "the people who do not mean". :
1 Peter 2:10 says: "you who once were not God's people, but which now has become his people, who were not of mercy but now have obtain mercy". God raised slaves and servants who do not have a rough education and self-esteem and instill his own character into themselves and put his name on them.
He brought them out of Egypt and said, "now I'll make you all be my people." He literally created the bride for him. God led the descendants of Abraham to the foot of Mount Sinai, and it was not easy, when the crowd needed food, God wants them to look for him to get bread for them, but instead they just berate Moses and said it is better to return to Egypt.
However, Moses prayed and God provided "manna and quails' The same thing happens when they run out of water, they immediately discredit Moses to express grievances and to speak" how well the days of the past "which they spent in Egypt. God has something better for the people of Israel.
The sad truth in The Book of the output is that the diverse people of that led to the Mount Sinai is not a group of people whom he led across the Jordan River into the promised land. God called them and made them into a nation the first time in their history, he summoned them to a place. A place of blessing and their changes, which in fact they do not want to go.
The blessings they do not consist of places where rocky, but the Lord called them a little market where the treaty in him, a place of intimacy with their creator, who at that time was not offered to anyone else on this planet. It is a secret from the secret place.
Although the first generation of Israel that had gathered around the mountain believed ultimately to the scouts are a coward and retreat from the promised land because of fear, but the real cause of their failure occurs when they are at the foot of Mount Sinai. God meant for all the people of Israel came up to him on the mountain, but they feel uncomfortable.
Exodus 20:18 says: "The whole nation is watching thunder thunder, lightning continued-risk one, trumpets sounded and the mountain smoking. So the nation was frightened and trembling, and they stood afar off. They said to Moses: "You are talking to us, then we will listen, but let not God speak with us, lest we die." But Moses said unto the people: "Fear not, for God has come with the intention to try you, and with the intent to fear him is in you, that ye sin not." As the nation stood at a distance, but Moses went near a black dew in which God exists. "
They heard the lightning and thunder, and they retreated out of fear, they fled from his presence and not advanced as that of Moses. So the end result of their escape from the sacred intimate relationship with God is that they die before they or their children into the promised land. This is not God's plan for the first generation of Israelites to die in the wilderness, he wanted to bring those who had brought him out of the land of slavery to the promised land.
He wants to give their land and their own heritage. Their destruction came when they looked across the Jordan to the promised land and began to retreat, they retreated from the presence of God in the clouds on Mount Sinai. That's where they ran from God and demanded Moses stood between them, the church has suffered the same problem since then.
We would prefer if there was someone standing between us and God, we have a something that is inspired from Hell, the human fear of the holy intercourse with God.
The root of this fear back as far back as the Garden of Eden. Adam and Eve hid themselves in fear of embarrassing while God missed a sweet fellowship.
But now we have arrived at the mountain's decision, we are at the "crossroads". God has pulled us out of sin and the world.
He has united us into a people. That's really the journey in the wilderness, God created a people of "the people who do not mean". :
1 Peter 2:10 says: "you who once were not God's people, but which now has become his people, who were not of mercy but now have obtain mercy". God raised slaves and servants who do not have a rough education and self-esteem and instill his own character into themselves and put his name on them.
He brought them out of Egypt and said, "now I'll make you all be my people." He literally created the bride for him. God led the descendants of Abraham to the foot of Mount Sinai, and it was not easy, when the crowd needed food, God wants them to look for him to get bread for them, but instead they just berate Moses and said it is better to return to Egypt.
However, Moses prayed and God provided "manna and quails' The same thing happens when they run out of water, they immediately discredit Moses to express grievances and to speak" how well the days of the past "which they spent in Egypt. God has something better for the people of Israel.
The sad truth in The Book of the output is that the diverse people of that led to the Mount Sinai is not a group of people whom he led across the Jordan River into the promised land. God called them and made them into a nation the first time in their history, he summoned them to a place. A place of blessing and their changes, which in fact they do not want to go.
The blessings they do not consist of places where rocky, but the Lord called them a little market where the treaty in him, a place of intimacy with their creator, who at that time was not offered to anyone else on this planet. It is a secret from the secret place.
Although the first generation of Israel that had gathered around the mountain believed ultimately to the scouts are a coward and retreat from the promised land because of fear, but the real cause of their failure occurs when they are at the foot of Mount Sinai. God meant for all the people of Israel came up to him on the mountain, but they feel uncomfortable.
Exodus 20:18 says: "The whole nation is watching thunder thunder, lightning continued-risk one, trumpets sounded and the mountain smoking. So the nation was frightened and trembling, and they stood afar off. They said to Moses: "You are talking to us, then we will listen, but let not God speak with us, lest we die." But Moses said unto the people: "Fear not, for God has come with the intention to try you, and with the intent to fear him is in you, that ye sin not." As the nation stood at a distance, but Moses went near a black dew in which God exists. "
They heard the lightning and thunder, and they retreated out of fear, they fled from his presence and not advanced as that of Moses. So the end result of their escape from the sacred intimate relationship with God is that they die before they or their children into the promised land. This is not God's plan for the first generation of Israelites to die in the wilderness, he wanted to bring those who had brought him out of the land of slavery to the promised land.
He wants to give their land and their own heritage. Their destruction came when they looked across the Jordan to the promised land and began to retreat, they retreated from the presence of God in the clouds on Mount Sinai. That's where they ran from God and demanded Moses stood between them, the church has suffered the same problem since then.
We would prefer if there was someone standing between us and God, we have a something that is inspired from Hell, the human fear of the holy intercourse with God.
The root of this fear back as far back as the Garden of Eden. Adam and Eve hid themselves in fear of embarrassing while God missed a sweet fellowship.
Langganan:
Postingan (Atom)


