Genesis 2:17 “but the tree of knowledge of good and evil, and do not eat the fruit, because on that day when you eat it, thou shalt surely die.” Death entered because of sin in human life human disobedience to the commandments of God.
Humans Adam and Eve, were created on the sixth day of Genesis 1:27-31 says: "So God created man in His image, the image of God he created him; male and female he created them. God bless them ...... And God saw everything that made him that, really very good.And the evening and the morning were the sixth day.
On the seventh day God rested and sanctified, the human life after the seventh day is eternal life until one day humans to disobey God by eating the fruit from the tree of knowledge of good and evil, in the end they were expelled from the Garden of Eden (Genesis 3:23). Since then the old man began to be calculated and the Bible records in Genesis 5:6 that Adam reached age 930 years and then die.
Methuselah reached the age of the longest in human history that is 969 years. What about today's human beings? Consciously or unconsciously when we are born into this world, we've been in long queues to get in the door of death. Willing or unwilling we are bound and subject to the law of death, Genesis 3:19 says: "By the sweat you shall eat bread, till thou return to the ground, since from it you were taken; for you are dust and to dust you will return. "
The problem is now whether we have to prepare ourselves to enter into the gates of death, because behind it we can no longer improve our lives, whether eternal death or eternal life we will receive on the other side of death, it depends on our lives today This ..... There are two images of human death before he receives eternal death.
First, morally dead.
Genesis 3:6-7, the woman saw that the tree was good for food and pleasant looks of it, besides the tree was interesting because it gives light. Then she took from its fruit and ate and gave also to her husband who together with her, and her husband were eating it. Then their eyes were opened and they both knew that they were naked so they sewed fig leaves together and made coverings for themselves.
Disobedience to God's command to make a new character for human, sinful nature. In fact, humans began to form an innate desire for self-serving without regard to God or anyone else, so now we can see the moral decadence that happens everywhere, humans create disorder by breaking God's commandments, and undermine the standard of living systems and human life. With a variety of interests, people in forced labor and forced to attend or participate in the current fall damage, this moral death if not promptly repaired or restored then eternal death be waiting for us behind the doors of death.
Second, the spiritually dead.
Genesis 3:8-10, When they heard the steps of the LORD God walking in the garden at the time of the day was cool, man and his wife hide it against the LORD God among the trees in the park. But the LORD God called the man and said to him: "Where are you?" He replied: "When I heard thy voice in the garden, I was afraid because I was naked; so I hid.
Once the damaged or dead man's moral relationship with God then itself becomes corrupted, this is called spiritual death. Adam and Eve hid when he heard the footsteps of God, people who have dropped their religious moral values, too. He will distance themselves from church meetings, no more fellowship with God, life would feel empty, no purpose, and tend to sin in his life, only Jesus who could restore a person's spiritual death.
Eternal death.
Eternal death is described in the Book of Matthew 25:41 "And he shall say also to those on His left: Depart from me, ye cursed people, to depart into the eternal fire which has been prepared for the devil and angel -angels "
Mark 9:44 says: "in place that worms will not die, and the fire is not quenched. And if thy foot offend thee, cut it, it is better for thee to enter life lame than with two feet to be cast into hell; in place that worms will not die, and the fire is not quenched. And if thine eye offend thee, pluck it out, it is better for you to enter the kingdom of God with one eye than having two eyes to be cast into hell, where the caterpillars dead do not die and the fire is not extinguished. Since everyone will be salted with fire.
Revelation 14:10 says: "then he will drink of the wine of the wrath of God, which is provided without any mixture in the cup of his wrath, and he shall be tormented with fire and brimstone in the presence of the holy angels and in the presence of the Lamb. And the smoke of their torment goes up forever, and day and night they never stopped being tortured, those who worship the beast and his image, and anyone who has received a sign his name. "
Kematian Manusia
Kejadian 2:17, "tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati. Kematian masuk dalam kehidupan manusia karena dosa ketidaktaatan manusia terhadap perintah Allah.
Manusia Adam dan Hawa, diciptakan pada hari keenam. Kitab Kejadian 1:27-31 mengatakan: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka......Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam."
Pada hari ke tujuh Allah beristirahat dan menguduskannya, kehidupan manusia setelah hari ketujuh adalah kehidupan abadi sampai suatu ketika manusia melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, pada akhirnya mereka diusir dari taman Eden (Kejadian 3:23). Sejak saat itu umur manusia mulai dihitung dan Alkitab mencatat dalam Kejadian 5:6 bahwa Adam mencapai umur 930 tahun kemudian mati.
Metusalah mencapai umur yang paling panjang dalam sejarah manusia yaitu 969 tahun. Bagaimana dengan manusia sekarang ini? Sadar ataupun tanpa sadar ketika kita lahir di dunia ini, kita sudah berada dalam antrian panjang untuk masuk dalam pintu kematian. Mau atau tidak mau kita sudah terikat dan tunduk kepada hukum kematian, Kejadian 3:19 mengatakan: “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."
Permasalahan sekarang sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk masuk ke dalam pintu kematian itu, karena di balik pintu itu kita sudah tidak bisa memperbaiki lagi kehidupan kita, apakah kematian kekal atau kehidupan kekal yang akan kita terima di balik pintu kematian itu tergantung kehidupan kita sekarang ini.... ada dua gambaran kematian manusia sebelum dia menerima kematian yang kekal.
Pertama, mati secara moral.
Kejadian 3:6-7, Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
Ketidaktaatan akan perintah Tuhan menjadikan suatu tabiat yang baru bagi manusia, tabiat yang berdosa. Bahkan manusia mulai membentuk keinginan bawaan untuk mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan Tuhan atau orang lain sehingga saat ini kita bisa melihat dekadensi moral itu terjadi dimana-mana, manusia menciptakan ketidakteraturan dengan melanggar perintah Tuhan, dan merusak sistim standar hidup dan kehidupan manusia. Dengan berbagai kepentingan, manusia di paksa dan terpaksa untuk mengikuti atau ikut terjerumus pada arus kerusakan, kematian moral ini apabila tidak segera diperbaiki atau dipulihkan maka kematian kekal akan menunggu kita di balik pintu kematian.
Kedua, mati secara rohani.
Kejadian 3:8-10, Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.
Setelah moral manusia rusak atau mati maka hubungannya dengan Allah dengan sendirinya menjadi rusak, inilah yang dinamakan kematian rohani. Adam dan Hawa bersembunyi ketika mendengar bunyi langkah Tuhan, orang yang sudah merosot nilai moral keagamaannya juga demikian. Dia akan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah, tidak ada lagi persekutuan dengan Tuhan, kehidupan akan terasa hampa, tidak ada tujuan, dan cenderung melakukan dosa dalam kehidupannya, hanya Yesus yang sanggup memulihkan kematian rohani seseorang.
Kematian Kekal
Kematian kekal digambarkan dalam Kitab Matius 25:41 “Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya”
Markus 9:44 mengatakan: “di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam. Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. Karena setiap orang akan digarami dengan api.
Wahyu 14:10 mengatakan: “maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya."
Manusia Adam dan Hawa, diciptakan pada hari keenam. Kitab Kejadian 1:27-31 mengatakan: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka......Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam."
Pada hari ke tujuh Allah beristirahat dan menguduskannya, kehidupan manusia setelah hari ketujuh adalah kehidupan abadi sampai suatu ketika manusia melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, pada akhirnya mereka diusir dari taman Eden (Kejadian 3:23). Sejak saat itu umur manusia mulai dihitung dan Alkitab mencatat dalam Kejadian 5:6 bahwa Adam mencapai umur 930 tahun kemudian mati.
Metusalah mencapai umur yang paling panjang dalam sejarah manusia yaitu 969 tahun. Bagaimana dengan manusia sekarang ini? Sadar ataupun tanpa sadar ketika kita lahir di dunia ini, kita sudah berada dalam antrian panjang untuk masuk dalam pintu kematian. Mau atau tidak mau kita sudah terikat dan tunduk kepada hukum kematian, Kejadian 3:19 mengatakan: “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."
Permasalahan sekarang sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk masuk ke dalam pintu kematian itu, karena di balik pintu itu kita sudah tidak bisa memperbaiki lagi kehidupan kita, apakah kematian kekal atau kehidupan kekal yang akan kita terima di balik pintu kematian itu tergantung kehidupan kita sekarang ini.... ada dua gambaran kematian manusia sebelum dia menerima kematian yang kekal.
Pertama, mati secara moral.
Kejadian 3:6-7, Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
Ketidaktaatan akan perintah Tuhan menjadikan suatu tabiat yang baru bagi manusia, tabiat yang berdosa. Bahkan manusia mulai membentuk keinginan bawaan untuk mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan Tuhan atau orang lain sehingga saat ini kita bisa melihat dekadensi moral itu terjadi dimana-mana, manusia menciptakan ketidakteraturan dengan melanggar perintah Tuhan, dan merusak sistim standar hidup dan kehidupan manusia. Dengan berbagai kepentingan, manusia di paksa dan terpaksa untuk mengikuti atau ikut terjerumus pada arus kerusakan, kematian moral ini apabila tidak segera diperbaiki atau dipulihkan maka kematian kekal akan menunggu kita di balik pintu kematian.
Kedua, mati secara rohani.
Kejadian 3:8-10, Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.
Setelah moral manusia rusak atau mati maka hubungannya dengan Allah dengan sendirinya menjadi rusak, inilah yang dinamakan kematian rohani. Adam dan Hawa bersembunyi ketika mendengar bunyi langkah Tuhan, orang yang sudah merosot nilai moral keagamaannya juga demikian. Dia akan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah, tidak ada lagi persekutuan dengan Tuhan, kehidupan akan terasa hampa, tidak ada tujuan, dan cenderung melakukan dosa dalam kehidupannya, hanya Yesus yang sanggup memulihkan kematian rohani seseorang.
Kematian Kekal
Kematian kekal digambarkan dalam Kitab Matius 25:41 “Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya”
Markus 9:44 mengatakan: “di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam. Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. Karena setiap orang akan digarami dengan api.
Wahyu 14:10 mengatakan: “maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya."
Worshipers Face
Matthew 17:2 Then Jesus was transfigured before their eyes; His face shining like the sun and his clothes became white as light shines. The relationship between the face and worship more than just a coincidence, our faces are part of our body most clearly seen by the public.
He is less subtle as the other, is also part of the most easily recognized than other parts of our body. Book our school report cards will not be filled with those legs, but with photographs of their faces. God wants to take our faces, the most open to the public and the most easy to remember, and use it to reflect his goodness.
Paul writes in 2 Corinthians 3:18 "And we all reflect God's glory with faces that are not covered. And because of the glory that comes from God who is Spirit, then we changed to a picture similar to his, in which the greater glory. "We do not cover Front cover and reflect the brilliance of our Lord Jesus ... we are continuously modified to become like him. As time passed we became more brilliant. Brilliance is from the Spirit, and Spirit is God.
God invites us to see his face so that he can change our faces, he uses our faces veiled not to show his glory, the change is not easy but the Lord was pleased we could change the face of His children. By concerns fingers removed. The image of shame and doubt into the picture of generosity and trust. He flexed taut chin and forehead smoothed a wrinkle. Touches him eliminate fatigue circles under the eyes and change the desperate tears into tears of peace.
How? through worship! God's plan was so simple to change our face through worship. King David's definition of worship: Psalm 43:3 "Make thy light and thy faithfulness to come, so I was led and taken to the mountains thy holy and to thy dwelling place!" Worship, worship is the act of bringing up the name of God to expand the view we are from Him.
Sign in to cockpit to see where God dwells and see him work, of course, his size has not changed, but our perception of him has changed, when we get closer It look bigger. Do not we have a big problem, a big concern and maybe a big question? Therefore we need a great view of God worship gave it our fellowship with God to make our vision expanded and our faces glow.
The excited faces and beaming is a sign of someone who had been standing before God. Exodus 34:35 "If the people of Israel saw the face of Moses, that Moses' face glowing skin, then Moses covered his face again until he came face to talk with the Lord". Business God is changing the face of the world, this change is the work He's not our job. Our goal is not to make our faces glow. Even Jesus did not do that. Matthew 17:2 says: "Jesus was transfigured," not "Jesus changed his way".
Our goal is to stand before God with a ready heart and let God do his work. And he did it, he wiped tears, was softening forehead full of wrinkles, he touched our cheeks, he changed the face of us as we worship Him there even more, that God not only changed the face of those who worship, he also changing the face of those who observe us worship.
He is less subtle as the other, is also part of the most easily recognized than other parts of our body. Book our school report cards will not be filled with those legs, but with photographs of their faces. God wants to take our faces, the most open to the public and the most easy to remember, and use it to reflect his goodness.
Paul writes in 2 Corinthians 3:18 "And we all reflect God's glory with faces that are not covered. And because of the glory that comes from God who is Spirit, then we changed to a picture similar to his, in which the greater glory. "We do not cover Front cover and reflect the brilliance of our Lord Jesus ... we are continuously modified to become like him. As time passed we became more brilliant. Brilliance is from the Spirit, and Spirit is God.
God invites us to see his face so that he can change our faces, he uses our faces veiled not to show his glory, the change is not easy but the Lord was pleased we could change the face of His children. By concerns fingers removed. The image of shame and doubt into the picture of generosity and trust. He flexed taut chin and forehead smoothed a wrinkle. Touches him eliminate fatigue circles under the eyes and change the desperate tears into tears of peace.
How? through worship! God's plan was so simple to change our face through worship. King David's definition of worship: Psalm 43:3 "Make thy light and thy faithfulness to come, so I was led and taken to the mountains thy holy and to thy dwelling place!" Worship, worship is the act of bringing up the name of God to expand the view we are from Him.
Sign in to cockpit to see where God dwells and see him work, of course, his size has not changed, but our perception of him has changed, when we get closer It look bigger. Do not we have a big problem, a big concern and maybe a big question? Therefore we need a great view of God worship gave it our fellowship with God to make our vision expanded and our faces glow.
The excited faces and beaming is a sign of someone who had been standing before God. Exodus 34:35 "If the people of Israel saw the face of Moses, that Moses' face glowing skin, then Moses covered his face again until he came face to talk with the Lord". Business God is changing the face of the world, this change is the work He's not our job. Our goal is not to make our faces glow. Even Jesus did not do that. Matthew 17:2 says: "Jesus was transfigured," not "Jesus changed his way".
Our goal is to stand before God with a ready heart and let God do his work. And he did it, he wiped tears, was softening forehead full of wrinkles, he touched our cheeks, he changed the face of us as we worship Him there even more, that God not only changed the face of those who worship, he also changing the face of those who observe us worship.
Wajah Penyembah
Matius 17:2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Hubungan antara wajah dan ibadah lebih dari hanya suatu kebetulan, muka kita adalah bagian tubuh kita yang paling jelas terlihat oleh umum.
Ia kurang terselubung seperti yang lain, juga merupakan bagian yang paling mudah dikenal dibanding bagian lain tubuh kita. Buku raport sekolah kita tidak akan diisi dengan kaki-kaki orang tetapi dengan foto-foto dari wajah mereka. Allah ingin mengambil wajah-wajah kita, bagian yang paling terbuka kepada umum dan paling mudah diingat, dan menggunakannya untuk mencerminkan kebaikan-Nya.
Paulus menulis, dalam 2 Korintus 3:18 “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Muka kita tidak ditutupi selubung dan kita memantulkan kecemerlangan Tuhan Yesus…kita terus menerus diubah menjadi seperti Dia. Makin lama kita menjadi makin cemerlang. Kecemerlangan itu dari Roh, dan Roh itu adalah Tuhan.
Allah mengundang kita melihat wajah-Nya supaya Ia dapat mengubah wajah kita, Ia menggunakan wajah kita yang tak terselubung untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya, perubahan itu tidak mudah tetapi Tuhan kita sanggup Ia senang mengubah wajah anak-anakNya. Oleh jari-jariNya kekhawatiran dihapus. Bayangan rasa malu dan ragu menjadi lukisan kemurahan hati dan percaya. Ia melenturkan dagu yang tegang dan melicinkan kening yang mengkerut. Sentuhan-sentuhan-Nya menghilangkan lingkaran-lingkaran keletihan di bawah mata dan mengubah air mata putus asa menjadi air mata ketenangan.
Bagaimana caranya? melalui ibadah! rencana Tuhan begitu sederhana Ia mengubah wajah kita melalui ibadah. Definisi Raja Daud tentang ibadah: Mazmur 43:3 “Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!” menyembah, beribadah adalah tindakan membesarkan nama Tuhan memperluas pandangan kita dari Dia.
Masuk ke cockpit untuk melihat di mana Tuhan bersemayam dan melihat Dia bekerja, tentu saja ukuran-Nya tidak berubah, tetapi persepsi kita dari Dia yang berubah, ketika kita makin dekat Ia kelihatan makin besar. Bukankah kita mempunyai masalah yang besar, kekhawatiran besar dan mungkin pertanyaan yang besar? sebab itu kita memerlukan pandangan yang besar dari Allah ibadah memberikan itu, persekutuan kita dengan Allah membuat visi kita diperluas dan wajah kita bercahaya.
Wajah yang bergairah dan berseri-seri adalah tanda dari seseorang yang sudah pernah berdiri di hadapan Allah. Keluaran 34:35 “Apabila orang Israel melihat muka Musa, bahwa kulit muka Musa bercahaya, maka Musa menyelubungi mukanya kembali sampai ia masuk menghadap untuk berbicara dengan TUHAN”. Bisnis Allah adalah mengubah wajah dunia, perubahan ini adalah pekerjaan Dia bukan pekerjaan kita. Sasaran kita bukan membuat wajah kita bersinar-sinar. Bahkan Yesus tidak melakukan itu. Matius 17:2 mengatakan: “Yesus berubah rupa” bukan “Yesus mengubah rupa-Nya”.
Tujuan kita adalah untuk berdiri di hadapan Allah dengan hati yang siap sedia kemudian membiarkan Allah melakukan pekerjaan-Nya. Dan Ia melakukan itu, Ia menghapus air mata, Ia melembutkan kening yang penuh kerut, Ia menyentuh pipi kita, Ia mengubah wajah kita sementara kita beribadah kepada-Nya bahkan masih ada lagi, bahwa Allah tidak hanya mengubah wajah dari mereka yang beribadah, Ia juga mengubah wajah mereka yang mengamati kita beribadah.
Ia kurang terselubung seperti yang lain, juga merupakan bagian yang paling mudah dikenal dibanding bagian lain tubuh kita. Buku raport sekolah kita tidak akan diisi dengan kaki-kaki orang tetapi dengan foto-foto dari wajah mereka. Allah ingin mengambil wajah-wajah kita, bagian yang paling terbuka kepada umum dan paling mudah diingat, dan menggunakannya untuk mencerminkan kebaikan-Nya.
Paulus menulis, dalam 2 Korintus 3:18 “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Muka kita tidak ditutupi selubung dan kita memantulkan kecemerlangan Tuhan Yesus…kita terus menerus diubah menjadi seperti Dia. Makin lama kita menjadi makin cemerlang. Kecemerlangan itu dari Roh, dan Roh itu adalah Tuhan.
Allah mengundang kita melihat wajah-Nya supaya Ia dapat mengubah wajah kita, Ia menggunakan wajah kita yang tak terselubung untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya, perubahan itu tidak mudah tetapi Tuhan kita sanggup Ia senang mengubah wajah anak-anakNya. Oleh jari-jariNya kekhawatiran dihapus. Bayangan rasa malu dan ragu menjadi lukisan kemurahan hati dan percaya. Ia melenturkan dagu yang tegang dan melicinkan kening yang mengkerut. Sentuhan-sentuhan-Nya menghilangkan lingkaran-lingkaran keletihan di bawah mata dan mengubah air mata putus asa menjadi air mata ketenangan.
Bagaimana caranya? melalui ibadah! rencana Tuhan begitu sederhana Ia mengubah wajah kita melalui ibadah. Definisi Raja Daud tentang ibadah: Mazmur 43:3 “Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!” menyembah, beribadah adalah tindakan membesarkan nama Tuhan memperluas pandangan kita dari Dia.
Masuk ke cockpit untuk melihat di mana Tuhan bersemayam dan melihat Dia bekerja, tentu saja ukuran-Nya tidak berubah, tetapi persepsi kita dari Dia yang berubah, ketika kita makin dekat Ia kelihatan makin besar. Bukankah kita mempunyai masalah yang besar, kekhawatiran besar dan mungkin pertanyaan yang besar? sebab itu kita memerlukan pandangan yang besar dari Allah ibadah memberikan itu, persekutuan kita dengan Allah membuat visi kita diperluas dan wajah kita bercahaya.
Wajah yang bergairah dan berseri-seri adalah tanda dari seseorang yang sudah pernah berdiri di hadapan Allah. Keluaran 34:35 “Apabila orang Israel melihat muka Musa, bahwa kulit muka Musa bercahaya, maka Musa menyelubungi mukanya kembali sampai ia masuk menghadap untuk berbicara dengan TUHAN”. Bisnis Allah adalah mengubah wajah dunia, perubahan ini adalah pekerjaan Dia bukan pekerjaan kita. Sasaran kita bukan membuat wajah kita bersinar-sinar. Bahkan Yesus tidak melakukan itu. Matius 17:2 mengatakan: “Yesus berubah rupa” bukan “Yesus mengubah rupa-Nya”.
Tujuan kita adalah untuk berdiri di hadapan Allah dengan hati yang siap sedia kemudian membiarkan Allah melakukan pekerjaan-Nya. Dan Ia melakukan itu, Ia menghapus air mata, Ia melembutkan kening yang penuh kerut, Ia menyentuh pipi kita, Ia mengubah wajah kita sementara kita beribadah kepada-Nya bahkan masih ada lagi, bahwa Allah tidak hanya mengubah wajah dari mereka yang beribadah, Ia juga mengubah wajah mereka yang mengamati kita beribadah.
Divine Dichotomy
Exodus 20:18-21, And all the people saw the thunderings, and the lightnings, and the noise of the trumpet, and the mountain smoking: and when the people saw it, they removed, and stood afar off.
And they said unto Moses, Speak thou with us, and we will hear: but let not God speak with us, lest we die.
And Moses said unto the people, Fear not: for God is come to prove you, and that his fear may be before your faces, that you sin not.
And the people stood afar off, and Moses drew near unto the thick darkness where God was.
A dichotomy of divine! The one closer, the other away. God has called His people to enter into intimacy, but they stay away from him through another road! They understand that the only people who fit with the character of God, as is depicted in the 10 commandments of the Lord, can stand in His presence and remain alive.
With the move away they're saying, "We do not want to live at such level that, do not let God speak to us today."
One thing that God wants them to do when He gives us 10 commandments of God to Moses was to purify their behavior so that He can do things even greater than merely observe them from a distance.
He wants to walk with them in the coolness in the midst of the wilderness. He wanted to sit with them and share his heart in an intimate communion.
Nothing has changed for us right now, He wants to do the same thing now with us, but the sad reality is that many Christians do not have any real feelings about the presence of God that the permanent stay, because we often refuse to rid themselves of chaos this life or maybe we've been trying to clean up the mess but we are stuck again in it.
When the people of Israel told Moses that they were scared, he tried to explain to them, "Do not be afraid, for God has come with the intention to try you, and with intent to fear him is in you, that you do not sin." (Exodus 20:20).
The Bible says, they stood at a distance while Moses approached the dew away the dark where God was. A remarkable picture, people ran to get there while Moses ran here. God is saying to us: "come closer to Me." He let us draw near to Him and now He has fallen down because He wants us all closer to Him together.
God always start with the leaders, and Moses had entered into the thick darkness once before at the top of the mountain. At that time, God wanted the people of Israel who else joined Moses in His presence. It states that the history of the Jewish faith experienced a decline from the moment God said, "come" and they replied, "not possible".
Feelings are not feasible in the presence of God made the Israelites feared closer. What about God's church today? There are people who are not worthy before God but, they feel worthy to stand in God even banquets that have become habits that must be done because of the demands of egoism and pride where there was no word of repentance to stand before God.
And God for them is merely a shadow of the future that is clear, there is or is not? And more worse, the Word of God is only used as a sword to judge others for their personal interests.
And they said unto Moses, Speak thou with us, and we will hear: but let not God speak with us, lest we die.
And Moses said unto the people, Fear not: for God is come to prove you, and that his fear may be before your faces, that you sin not.
And the people stood afar off, and Moses drew near unto the thick darkness where God was.
A dichotomy of divine! The one closer, the other away. God has called His people to enter into intimacy, but they stay away from him through another road! They understand that the only people who fit with the character of God, as is depicted in the 10 commandments of the Lord, can stand in His presence and remain alive.
With the move away they're saying, "We do not want to live at such level that, do not let God speak to us today."
One thing that God wants them to do when He gives us 10 commandments of God to Moses was to purify their behavior so that He can do things even greater than merely observe them from a distance.
He wants to walk with them in the coolness in the midst of the wilderness. He wanted to sit with them and share his heart in an intimate communion.
Nothing has changed for us right now, He wants to do the same thing now with us, but the sad reality is that many Christians do not have any real feelings about the presence of God that the permanent stay, because we often refuse to rid themselves of chaos this life or maybe we've been trying to clean up the mess but we are stuck again in it.
When the people of Israel told Moses that they were scared, he tried to explain to them, "Do not be afraid, for God has come with the intention to try you, and with intent to fear him is in you, that you do not sin." (Exodus 20:20).
The Bible says, they stood at a distance while Moses approached the dew away the dark where God was. A remarkable picture, people ran to get there while Moses ran here. God is saying to us: "come closer to Me." He let us draw near to Him and now He has fallen down because He wants us all closer to Him together.
God always start with the leaders, and Moses had entered into the thick darkness once before at the top of the mountain. At that time, God wanted the people of Israel who else joined Moses in His presence. It states that the history of the Jewish faith experienced a decline from the moment God said, "come" and they replied, "not possible".
Feelings are not feasible in the presence of God made the Israelites feared closer. What about God's church today? There are people who are not worthy before God but, they feel worthy to stand in God even banquets that have become habits that must be done because of the demands of egoism and pride where there was no word of repentance to stand before God.
And God for them is merely a shadow of the future that is clear, there is or is not? And more worse, the Word of God is only used as a sword to judge others for their personal interests.
Dikotomi Ilahi
Keluaran 20:18 “Seluruh bangsa itu menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Maka bangsa itu takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh.
Mereka berkata kepada Musa: "Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati."
Tetapi Musa berkata kepada bangsa itu: "Janganlah takut, sebab Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba kamu dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada padamu, agar kamu jangan berbuat dosa." Adapun bangsa itu berdiri jauh-jauh, tetapi Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah ada.
Suatu dikotomi ilahi! Yang satu mendekat, yang lain menjauh. Tuhan telah memanggil umat-Nya untuk masuk ke dalam keintiman tapi mereka menjauhi-Nya melalui jalan lain! Mereka memahami bahwa hanya orang-orang yang sesuai dengan karakter Tuhan, seperti yang di-gambarkan dalam 10 perintah Tuhan, dapat berdiri di hadirat-Nya dan tetap hidup.
Dengan menjauh mereka sedang mengatakan, “Kami tidak ingin hidup pada tingkat seperti itu, jangan biarkan Tuhan berbicara pada kami sekarang ini.”
Satu hal yang Tuhan ingin mereka lakukan ketika Dia memberikan 10 perintah Tuhan kepada Musa adalah untuk menyucikan tingkah laku mereka supaya Dia dapat melakukan hal-hal yang lebih besar lagi daripada sekedar melihat mereka dari jarak jauh.
Dia ingin berjalan bersama mereka dalam kesejukan di tengah padang gurun. Dia ingin duduk bersama mereka dan membagikan hati-Nya dalam satu persekutuan yang intim.
Tidak ada yang berubah bagi kita sekarang ini, Dia ingin melakukan hal yang sama sekarang dengan kita, tapi kenyataan yang menyedihkan ialah bahwa banyak orang Kristen tidak memiliki suatu perasaan yang nyata mengenai hadirat Tuhan yang tinggal tetap, karena kita seringkali menolak untuk membersihkan diri dari kekacauan hidup ini atau mungkin kita sudah berusaha untuk membersihkan kekacauan tersebut namun kita terjebak lagi di dalamnya.
Ketika orang-orang Israel memberitahukan kepada Musa bahwa mereka takut, Dia mencoba menjelaskan kepada mereka, "Janganlah takut, sebab Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba kamu dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada padamu, agar kamu jangan berbuat dosa." (Keluaran 20:20).
Alkitab berkata, mereka berdiri jauh-jauh sementara Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah berada. Suatu gambaran yang luar biasa, umat berlari kesana sementara Musa berlari kesini. Tuhan sedang berkata kepada kita: “mendekatlah kepada-Ku.” Dia mengizinkan kita mendekat kepada-Nya dan sekarang Dia telah turun kebawah sebab Dia ingin agar kita semua mendekat kepada-Nya bersama-sama.
Tuhan selalu mulai dengan para pemimpin, dan Musa telah masuk ke dalam kegelapan yang tebal itu sekali sebelum berada di puncak gunung itu. Pada saat itu, Tuhan menginginkan orang-orang Israel yang lain bergabung dengan Musa dalam hadirat-Nya. Ini menyatakan bahwa sejarah iman orang Yahudi mengalami suatu penurunan dari saat Tuhan berkata, “datanglah” dan mereka menjawab, “tidak mungkin”.
Perasaan tidak layak di hadapan Tuhan membuat bangsa Israel takut mendekat. Bagaimana dengan gereja Tuhan sekarang ini? Ada orang-orang yang tidak layak dihadapan Tuhan tetapi, mereka merasa layak untuk berdiri dalam perjamuan-perjamuan Tuhan bahkan itu sudah menjadi kebiasaan-kebiasaan yang harus dilakukan karena tuntutan egoisme dan kesombongan dimana tidak ada lagi kata pertobatan untuk berdiri dihadapan Tuhan.
Dan Tuhan bagi mereka hanya berperan sebagai bayang-bayang masa depan yang tidak jelas, ada ataukah tiada? Dan lebih celaka lagi, Firman Tuhan hanya dijadikan sebagai pedang untuk menghakimi orang lain untuk kepentingan pribadi mereka.
Mereka berkata kepada Musa: "Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati."
Tetapi Musa berkata kepada bangsa itu: "Janganlah takut, sebab Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba kamu dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada padamu, agar kamu jangan berbuat dosa." Adapun bangsa itu berdiri jauh-jauh, tetapi Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah ada.
Suatu dikotomi ilahi! Yang satu mendekat, yang lain menjauh. Tuhan telah memanggil umat-Nya untuk masuk ke dalam keintiman tapi mereka menjauhi-Nya melalui jalan lain! Mereka memahami bahwa hanya orang-orang yang sesuai dengan karakter Tuhan, seperti yang di-gambarkan dalam 10 perintah Tuhan, dapat berdiri di hadirat-Nya dan tetap hidup.
Dengan menjauh mereka sedang mengatakan, “Kami tidak ingin hidup pada tingkat seperti itu, jangan biarkan Tuhan berbicara pada kami sekarang ini.”
Satu hal yang Tuhan ingin mereka lakukan ketika Dia memberikan 10 perintah Tuhan kepada Musa adalah untuk menyucikan tingkah laku mereka supaya Dia dapat melakukan hal-hal yang lebih besar lagi daripada sekedar melihat mereka dari jarak jauh.
Dia ingin berjalan bersama mereka dalam kesejukan di tengah padang gurun. Dia ingin duduk bersama mereka dan membagikan hati-Nya dalam satu persekutuan yang intim.
Tidak ada yang berubah bagi kita sekarang ini, Dia ingin melakukan hal yang sama sekarang dengan kita, tapi kenyataan yang menyedihkan ialah bahwa banyak orang Kristen tidak memiliki suatu perasaan yang nyata mengenai hadirat Tuhan yang tinggal tetap, karena kita seringkali menolak untuk membersihkan diri dari kekacauan hidup ini atau mungkin kita sudah berusaha untuk membersihkan kekacauan tersebut namun kita terjebak lagi di dalamnya.
Ketika orang-orang Israel memberitahukan kepada Musa bahwa mereka takut, Dia mencoba menjelaskan kepada mereka, "Janganlah takut, sebab Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba kamu dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada padamu, agar kamu jangan berbuat dosa." (Keluaran 20:20).
Alkitab berkata, mereka berdiri jauh-jauh sementara Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah berada. Suatu gambaran yang luar biasa, umat berlari kesana sementara Musa berlari kesini. Tuhan sedang berkata kepada kita: “mendekatlah kepada-Ku.” Dia mengizinkan kita mendekat kepada-Nya dan sekarang Dia telah turun kebawah sebab Dia ingin agar kita semua mendekat kepada-Nya bersama-sama.
Tuhan selalu mulai dengan para pemimpin, dan Musa telah masuk ke dalam kegelapan yang tebal itu sekali sebelum berada di puncak gunung itu. Pada saat itu, Tuhan menginginkan orang-orang Israel yang lain bergabung dengan Musa dalam hadirat-Nya. Ini menyatakan bahwa sejarah iman orang Yahudi mengalami suatu penurunan dari saat Tuhan berkata, “datanglah” dan mereka menjawab, “tidak mungkin”.
Perasaan tidak layak di hadapan Tuhan membuat bangsa Israel takut mendekat. Bagaimana dengan gereja Tuhan sekarang ini? Ada orang-orang yang tidak layak dihadapan Tuhan tetapi, mereka merasa layak untuk berdiri dalam perjamuan-perjamuan Tuhan bahkan itu sudah menjadi kebiasaan-kebiasaan yang harus dilakukan karena tuntutan egoisme dan kesombongan dimana tidak ada lagi kata pertobatan untuk berdiri dihadapan Tuhan.
Dan Tuhan bagi mereka hanya berperan sebagai bayang-bayang masa depan yang tidak jelas, ada ataukah tiada? Dan lebih celaka lagi, Firman Tuhan hanya dijadikan sebagai pedang untuk menghakimi orang lain untuk kepentingan pribadi mereka.
Flesh and Spirit
"Because the flesh is death, but the desire of the Spirit is life and peace, because the flesh is enmity against God, because he did not submit to God's law; this is not possible for him. Those who live in the flesh, can not be pleasing to God" (Romans 8:6-8).
It is true that all flesh must die in the presence of His glory, is true also that all who come from the Spirit will live forever in glory. We are a people who want eternal life forever, but there must be a part of our flesh which died first.
Our flesh that holds us to stand before the glory of God, thus we are caught in an endless struggle between the flesh and spirit. It's time for us to go forward and said to Him, "Lord, I want to see Your glory."
God wants to reveal Himself to us, He wants to use us, it is not a blessing of cheap, but first we have to lie and die. He can come closer to us how far we are willing to die, God is trying to make re-definition of what we call "church". He was looking for people who desire to hunt the heart of God.
He wanted a church that is pleasing model of David in front of him, we can just simply seeking his blessing, or we can say "I do not just want the blessings, first I want you, I want you to come closer, to touch my eyes, touched my heart , touched my ear and changing me, Lord ".
We need to pray for a breakthrough, but we can not pray for a breakthrough before we make ourselves crushed itself, a breakthrough occurs only through the people who crushed his heart is not pursuing their own ambitions, but that pursuing God's purposes.
Revival must begin at our church before reaching the wider community because the fire did not fall on an empty altar, must have a victim on the altar so that fire may come down.
If we want the Fire Lord, we must become the fuel of God. We need to crawl on the altar and say: "Lord whatever the price, I put myself on the altar and begged You for me with the fire burn you, Lord."
We will be able to see and feel the awesomeness of God when He visited us in His anointing, so we'd miraculously restored, shaped into vessels worthy before God for the glory of God.
2 Chronicles 7:14 says: "And my people, which it called my name, humble themselves, pray and seek My face and turn from the streets of evil, then will I hear from heaven and forgive their sin, and restore their land ".
So if we reduced, so he can grow, we lack means excess He. John the Baptist was wise enough to admit that he was the giver of all gifts and abilities. He said: "No one can take something for themselves, if not given to him from heaven" (John 3:27 b).
Basically, if I am less and less, then there is more room for him again for further increases. The more I die, the closer he told me.
It is true that all flesh must die in the presence of His glory, is true also that all who come from the Spirit will live forever in glory. We are a people who want eternal life forever, but there must be a part of our flesh which died first.
Our flesh that holds us to stand before the glory of God, thus we are caught in an endless struggle between the flesh and spirit. It's time for us to go forward and said to Him, "Lord, I want to see Your glory."
God wants to reveal Himself to us, He wants to use us, it is not a blessing of cheap, but first we have to lie and die. He can come closer to us how far we are willing to die, God is trying to make re-definition of what we call "church". He was looking for people who desire to hunt the heart of God.
He wanted a church that is pleasing model of David in front of him, we can just simply seeking his blessing, or we can say "I do not just want the blessings, first I want you, I want you to come closer, to touch my eyes, touched my heart , touched my ear and changing me, Lord ".
We need to pray for a breakthrough, but we can not pray for a breakthrough before we make ourselves crushed itself, a breakthrough occurs only through the people who crushed his heart is not pursuing their own ambitions, but that pursuing God's purposes.
Revival must begin at our church before reaching the wider community because the fire did not fall on an empty altar, must have a victim on the altar so that fire may come down.
If we want the Fire Lord, we must become the fuel of God. We need to crawl on the altar and say: "Lord whatever the price, I put myself on the altar and begged You for me with the fire burn you, Lord."
We will be able to see and feel the awesomeness of God when He visited us in His anointing, so we'd miraculously restored, shaped into vessels worthy before God for the glory of God.
2 Chronicles 7:14 says: "And my people, which it called my name, humble themselves, pray and seek My face and turn from the streets of evil, then will I hear from heaven and forgive their sin, and restore their land ".
So if we reduced, so he can grow, we lack means excess He. John the Baptist was wise enough to admit that he was the giver of all gifts and abilities. He said: "No one can take something for themselves, if not given to him from heaven" (John 3:27 b).
Basically, if I am less and less, then there is more room for him again for further increases. The more I die, the closer he told me.
Daging dan Roh
“Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera, sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah” (Roma 8:6-8).
Adalah benar bahwa semua daging harus mati dalam hadirat kemuliaan-Nya, adalah benar juga bahwa semua yang berasal dari Roh akan hidup selamanya dalam kemuliaan-Nya. Kita adalah umat yang menginginkan kehidupan kekal selamanya, tetapi harus ada bagian dari daging kita yang mati terlebih dahulu.
Daging kita yang menahan kita untuk berdiri dihadapan kemuliaan Tuhan, dengan demikian kita terperangkap dalam suatu pergumulan yang tiada habisnya antara daging dan roh. Inilah waktunya bagi kita untuk maju terus dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, aku ingin melihat kemuliaan-Mu.”
Allah berkehendak untuk menyatakan diri-Nya kepada kita, Dia ingin memakai kita, hal tersebut bukanlah suatu berkat murahan, tetapi lebih dahulu kita harus terbaring dan mati. Dia dapat datang mendekat kepada kita sejauh mana kita rela mati, Allah sedang berusaha mendefenisi ulang apa yang kita sebut dengan “gereja”. Dia sedang mencari orang-orang yang rindu memburu hati Tuhan.
Dia menginginkan suatu gereja model Daud yang berkenan di hadapan-Nya, kita dapat saja hanya mencari berkat-Nya atau kita dapat mengatakan “aku tidak hanya menginginkan berkat-berkat, terlebih aku menginginkan Engkau, aku menginginkan Engkau datang mendekat, menjamah mataku, menjamah hatiku, menjamah telingaku dan mengubahkan aku, Tuhan”.
Kita perlu berdoa untuk suatu terobosan, tapi kita tidak dapat berdoa untuk suatu terobosan sebelum kita meremukan diri kita sendiri, terobosan hanya terjadi melalui orang-orang yang remuk hatinya yang tidak mengejar ambisi mereka sendiri, tetapi yang mengejar maksud-maksud Tuhan.
Kebangunan rohani harus dimulai dari gereja kita sebelum menjangkau masyarakat yang lebih luas karena api tidak turun atas mezbah yang kosong, harus ada korban di atas mezbah agar api dapat turun. Jika kita menginginkan Api Tuhan, kita harus menjadi bahan bakar Tuhan. Kita perlu merangkak di atas mezbah dan berkata; “Tuhan apapun harganya, aku meletakkan diriku di atas mezbah dan memohon kepadaMu untuk membakar aku dengan Api-Mu, Tuhan.”
Kita akan bisa melihat dan merasakan kedahsyatan Tuhan ketika Dia melawat kita dalam urapan-Nya yang ajaib sehingga kita akan dipulihkan, dibentuk menjadi bejana-bejana yang layak dihadapan Tuhan untuk kemuliaan nama Tuhan.
2 Tawarikh 7:14 mengatakan; “Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari surga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka”.
Jadi jika kita berkurang, maka Dia dapat bertambah, kekurangan kita berarti kelebihan Dia. Yohanes Pembaptis cukup bijaksana untuk mengakui bahwa Dialah Pemberi semua karunia dan kemampuan. Dia berkata; “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga” (Yohanes 3:27b).
Pada dasarnya jika aku semakin berkurang, maka ada ruang yang lebih besar lagi bagi Dia untuk semakin bertambah. Semakin saya mati, semakin dekat Dia kepada saya.
Adalah benar bahwa semua daging harus mati dalam hadirat kemuliaan-Nya, adalah benar juga bahwa semua yang berasal dari Roh akan hidup selamanya dalam kemuliaan-Nya. Kita adalah umat yang menginginkan kehidupan kekal selamanya, tetapi harus ada bagian dari daging kita yang mati terlebih dahulu.
Daging kita yang menahan kita untuk berdiri dihadapan kemuliaan Tuhan, dengan demikian kita terperangkap dalam suatu pergumulan yang tiada habisnya antara daging dan roh. Inilah waktunya bagi kita untuk maju terus dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, aku ingin melihat kemuliaan-Mu.”
Allah berkehendak untuk menyatakan diri-Nya kepada kita, Dia ingin memakai kita, hal tersebut bukanlah suatu berkat murahan, tetapi lebih dahulu kita harus terbaring dan mati. Dia dapat datang mendekat kepada kita sejauh mana kita rela mati, Allah sedang berusaha mendefenisi ulang apa yang kita sebut dengan “gereja”. Dia sedang mencari orang-orang yang rindu memburu hati Tuhan.
Dia menginginkan suatu gereja model Daud yang berkenan di hadapan-Nya, kita dapat saja hanya mencari berkat-Nya atau kita dapat mengatakan “aku tidak hanya menginginkan berkat-berkat, terlebih aku menginginkan Engkau, aku menginginkan Engkau datang mendekat, menjamah mataku, menjamah hatiku, menjamah telingaku dan mengubahkan aku, Tuhan”.
Kita perlu berdoa untuk suatu terobosan, tapi kita tidak dapat berdoa untuk suatu terobosan sebelum kita meremukan diri kita sendiri, terobosan hanya terjadi melalui orang-orang yang remuk hatinya yang tidak mengejar ambisi mereka sendiri, tetapi yang mengejar maksud-maksud Tuhan.
Kebangunan rohani harus dimulai dari gereja kita sebelum menjangkau masyarakat yang lebih luas karena api tidak turun atas mezbah yang kosong, harus ada korban di atas mezbah agar api dapat turun. Jika kita menginginkan Api Tuhan, kita harus menjadi bahan bakar Tuhan. Kita perlu merangkak di atas mezbah dan berkata; “Tuhan apapun harganya, aku meletakkan diriku di atas mezbah dan memohon kepadaMu untuk membakar aku dengan Api-Mu, Tuhan.”
Kita akan bisa melihat dan merasakan kedahsyatan Tuhan ketika Dia melawat kita dalam urapan-Nya yang ajaib sehingga kita akan dipulihkan, dibentuk menjadi bejana-bejana yang layak dihadapan Tuhan untuk kemuliaan nama Tuhan.
2 Tawarikh 7:14 mengatakan; “Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari surga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka”.
Jadi jika kita berkurang, maka Dia dapat bertambah, kekurangan kita berarti kelebihan Dia. Yohanes Pembaptis cukup bijaksana untuk mengakui bahwa Dialah Pemberi semua karunia dan kemampuan. Dia berkata; “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga” (Yohanes 3:27b).
Pada dasarnya jika aku semakin berkurang, maka ada ruang yang lebih besar lagi bagi Dia untuk semakin bertambah. Semakin saya mati, semakin dekat Dia kepada saya.
Pelayan-Pelayan Allah
Pelayanan berawal di dalam pikiran kita, untuk menjadi seorang pelayan atau hamba dibutuhkan perubahan mental, suatu perubahan di dalam sikap kita. Allah selalu tertarik pada mengapa kita mengerjakan sesuatu ketimbang pada apa yang kita kerjakan. Sikap lebih berarti daripada pencapaian. Raja Amazia kehilangan perkenan Allah karena “Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, hanya tidak dengan segenap hati.” (2 Tawarikh 25:2).
Para pelayan harus lebih banyak memikirkan orang lain daripada diri mereka sendiri, para pelayan lebih mengutamakan orang lain bukan diri mereka sendiri, inilah kerendahan hati yang sejati, mereka suka lupa pada diri mereka sendiri. Paulus berkata: “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”(Filipi 2:4).
Ketika kita berhenti memfokus pada kebutuhan-kebutuhan kita sendiri, kita akan menjadi sadar akan kebutuhan-kebutuhan disekeliling kita. Yesus telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, kapankah kali terakhir kita telah mengosongkan diri kita sendiri demi kebaikan orang lain? Kita tidak bisa menjadi seorang pelayan jika kita penuh dengan diri kita sendiri, hanya bila kita melupakan diri kita sendiri barulah kita melakukan hal-hal yang layak untuk diingat.
Banyak palayanan kita seringkali merupakan pelayanan pada diri sendiri, kita melayani supaya orang lain menyukai kita, supaya dikagumi atau supaya kita mencapai tujuan-tujuan kita sendiri, ini adalah manipulasi bukan pelayanan. Sepanjang waktu kita hanya memikirkan diri kita sendiri tentang betapa menarik serta luar biasanya kita.
Beberapa orang mencoba menggunakan pelayanan sebagai sarana tawar-menawar dengan Allah: “Saya akan melakukan ini bagi-Mu Tuhan, jika Engkau melakukan sesuatu bagiku.”
Pelayan yang sejati tidak berusaha memanfaatkan Allah demi tujuan mereka, tetapi mereka membiarkan Allah memakai mereka untuk tujuan-Nya.
Berpikir seperti seorang hamba atau pelayan memang cukup sulit karena hal tersebut menantang masalah dasar keegoisan kita, sehingga kerendahan hati merupakan pergumulan sehari-hari yang menjadi pelajaran yang harus berulang-ulang kali untuk di ingat dan kita diberikan pilihan untuk memutuskan antara memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita atau kebutuhan orang lain, disini kita dapat melihat bahwa penyangkalan diri merupakan inti dari pelayanan.
Kita dapat mengukur hati pelayan dalam diri kita melalui cara kita memberi respons ketika orang lain memperlakukan kita seperti pelayan, yaitu ketika kita diterima biasa-biasa saja, atau ketika kita diperintah orang lain, atau ketika kita diperlakukan sebagai seorang yang tidak penting. Alkitab mengatakan: “Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.” (Matius 5:41). Mungkin ada orang yang memanfaatkan kita secara tidak adil, pakailah kesempatan itu untuk melatih kehidupan kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan.
Kadangkala uang memiliki potensi terbesar untuk menggantikan Allah di dalam kehidupan kita, lebih banyak orang tidak melayani karena materialime ketimbang karena hal lainnya. Mereka berkata, “Setelah saya mencapai sasaran-sasaran keuangan saya, saya akan melayani Allah.” Ini merupakan keputusan yang salah yang akan di sesali selamanya. Karena bila Yesus yang menjadi Tuan kita dan kita menjadi hamba-Nya, uang akan melayani kita, tapi jika uang yang menjadi tuan kita maka kita akan menjadi budaknya.
Kekayaan bukanlah dosa tapi gagal memanfaatkannya bagi kemuliaan Allah adalah dosa. Allah memakai uang untuk menguji kesetiaan kita sebagai seorang pelayan, cara kita mengelola uang kita mempengaruhi seberapa banyak Allah bisa memberkati kehidupan kita.
Bukan hanya uang yang harus kita waspadai sebagai seorang hamba Tuhan, tapi juga masalah persaingan diantara pelayan-pelayan Allah, hal ini hampir tidak masuk akal tapi ini memang banyak terjadi di dalam pelayanan. Kita semua berada dalam satu team yang sama, sasaran kita ialah membuat Allah menjadi prioritas nomor satu dalam kehidupan setiap orang, bukan sebaliknya kita yang dijadikan nomor satu.
Tidak ada tempat bagi rasa iri hati yang picik di antara para pelayan, ketika Marta mengeluh pada Yesus bahwa Maria tidak membantu bekerja, Marta kehilangan hati pelayan dalam dirinya. Pelayan sejati tidak mengeluh tentang ketidakadilan, dan tidak memiliki hati yang mengasihani diri sendiri, juga tidak membenci mereka yang tidak melayani, mereka hanya mempercayai Allah dan tetap melayani Allah.
Tugas kita bukanlah menilai pelayan-pelayan Tuhan lainnya. Alkitab mengatakan, “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri.” (Roma 14:4).
Allah memakai kita jika kita mulai bertindak dan berpikir seperti seorang pelayan, karena orang yang benar-benar berbahagia hanyalah orang-orang yang telah belajar bagaimana melayani Tuhan.
Para pelayan harus lebih banyak memikirkan orang lain daripada diri mereka sendiri, para pelayan lebih mengutamakan orang lain bukan diri mereka sendiri, inilah kerendahan hati yang sejati, mereka suka lupa pada diri mereka sendiri. Paulus berkata: “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”(Filipi 2:4).
Ketika kita berhenti memfokus pada kebutuhan-kebutuhan kita sendiri, kita akan menjadi sadar akan kebutuhan-kebutuhan disekeliling kita. Yesus telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, kapankah kali terakhir kita telah mengosongkan diri kita sendiri demi kebaikan orang lain? Kita tidak bisa menjadi seorang pelayan jika kita penuh dengan diri kita sendiri, hanya bila kita melupakan diri kita sendiri barulah kita melakukan hal-hal yang layak untuk diingat.
Banyak palayanan kita seringkali merupakan pelayanan pada diri sendiri, kita melayani supaya orang lain menyukai kita, supaya dikagumi atau supaya kita mencapai tujuan-tujuan kita sendiri, ini adalah manipulasi bukan pelayanan. Sepanjang waktu kita hanya memikirkan diri kita sendiri tentang betapa menarik serta luar biasanya kita.
Beberapa orang mencoba menggunakan pelayanan sebagai sarana tawar-menawar dengan Allah: “Saya akan melakukan ini bagi-Mu Tuhan, jika Engkau melakukan sesuatu bagiku.”
Pelayan yang sejati tidak berusaha memanfaatkan Allah demi tujuan mereka, tetapi mereka membiarkan Allah memakai mereka untuk tujuan-Nya.
Berpikir seperti seorang hamba atau pelayan memang cukup sulit karena hal tersebut menantang masalah dasar keegoisan kita, sehingga kerendahan hati merupakan pergumulan sehari-hari yang menjadi pelajaran yang harus berulang-ulang kali untuk di ingat dan kita diberikan pilihan untuk memutuskan antara memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita atau kebutuhan orang lain, disini kita dapat melihat bahwa penyangkalan diri merupakan inti dari pelayanan.
Kita dapat mengukur hati pelayan dalam diri kita melalui cara kita memberi respons ketika orang lain memperlakukan kita seperti pelayan, yaitu ketika kita diterima biasa-biasa saja, atau ketika kita diperintah orang lain, atau ketika kita diperlakukan sebagai seorang yang tidak penting. Alkitab mengatakan: “Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.” (Matius 5:41). Mungkin ada orang yang memanfaatkan kita secara tidak adil, pakailah kesempatan itu untuk melatih kehidupan kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan.
Kadangkala uang memiliki potensi terbesar untuk menggantikan Allah di dalam kehidupan kita, lebih banyak orang tidak melayani karena materialime ketimbang karena hal lainnya. Mereka berkata, “Setelah saya mencapai sasaran-sasaran keuangan saya, saya akan melayani Allah.” Ini merupakan keputusan yang salah yang akan di sesali selamanya. Karena bila Yesus yang menjadi Tuan kita dan kita menjadi hamba-Nya, uang akan melayani kita, tapi jika uang yang menjadi tuan kita maka kita akan menjadi budaknya.
Kekayaan bukanlah dosa tapi gagal memanfaatkannya bagi kemuliaan Allah adalah dosa. Allah memakai uang untuk menguji kesetiaan kita sebagai seorang pelayan, cara kita mengelola uang kita mempengaruhi seberapa banyak Allah bisa memberkati kehidupan kita.
Bukan hanya uang yang harus kita waspadai sebagai seorang hamba Tuhan, tapi juga masalah persaingan diantara pelayan-pelayan Allah, hal ini hampir tidak masuk akal tapi ini memang banyak terjadi di dalam pelayanan. Kita semua berada dalam satu team yang sama, sasaran kita ialah membuat Allah menjadi prioritas nomor satu dalam kehidupan setiap orang, bukan sebaliknya kita yang dijadikan nomor satu.
Tidak ada tempat bagi rasa iri hati yang picik di antara para pelayan, ketika Marta mengeluh pada Yesus bahwa Maria tidak membantu bekerja, Marta kehilangan hati pelayan dalam dirinya. Pelayan sejati tidak mengeluh tentang ketidakadilan, dan tidak memiliki hati yang mengasihani diri sendiri, juga tidak membenci mereka yang tidak melayani, mereka hanya mempercayai Allah dan tetap melayani Allah.
Tugas kita bukanlah menilai pelayan-pelayan Tuhan lainnya. Alkitab mengatakan, “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri.” (Roma 14:4).
Allah memakai kita jika kita mulai bertindak dan berpikir seperti seorang pelayan, karena orang yang benar-benar berbahagia hanyalah orang-orang yang telah belajar bagaimana melayani Tuhan.
The Inner Circle
Life is so hard always comes in the life of every person, whether it's old, young, big, small, child or adult it will not be overlooked and sometimes devastated building one's life, family or community, especially when the foundation of our life is only built upon a pile of sand then the tree of life we will soon be destroyed.
King Nebuchadnezzar saw an opportunity to build a stronger inner circle again in the events that harsh colonial life in his era. In Daniel 1:1-5 in the telling:
In the third year of the reign of Jehoiakim king of Judah came Nebuchadnezzar king of Babylon unto Jerusalem, and besieged it. And the Lord gave Jehoiakim king of Judah into his hand, with part of the vessels of the house of God: which he carried into the land of Shinar to the house of his god; and he brought the vessels into the treasure house of his god. And the king spake unto Ashpenaz the master of his eunuchs, that he should bring certain of the children of Israel, and of the king's seed, and of the princes; Children in whom was no blemish, but well favoured, and skilful in all wisdom, and cunning in knowledge, and understanding science, and such as had ability in them to stand in the king's palace, and whom they might teach the learning and the tongue of the Chaldeans. And the king appointed them a daily provision of the king's meat, and of the wine which he drank: so nourishing them three years, that at the end thereof they might stand before the king.
King Nebuchadnezzar strengthen the country by hiring people who come from descendant captive king, the nobility, the younger generation who have the skills and broad understanding of science. And Daniel, Hananiah, Mishael and Azariah were included. King Nebuchadnezzar was the king who did not fear God but he knows use what was available in a circle around him to improve his country is with them a decent place to assist in the care of his administration.
Collusion and nepotism do not apply in his administration and he understood the ability of every young generation capable, to be in his employ. Sometimes we as people who believe in God just do not know how to strengthen the inner circle of family life, community, church, nation and even our country. In fact we tend to damage by placing people who are not proficient in it and do not trust the younger generation who are competent to engage in it so that collusion and nepotism is rampant in all our lives.
In the countries we are most pleased to maintain the status quo, static state that deliberately to prevent the onset of instability (which is made-up) in order to defend certain interests to remain awake and in general they maintain their advantage or privilege that can not be separated, no matter whether it will harm other people or communities that to them is something that is legal. And much more sinister when the status quo prevailing in the church or our ministry.
Where there are some people who seek personal gain at the church or ministry, and usually they will not want anymore to back down or be removed from their place although clearly been violated church rules and not according to God's truth, because it is a person who believes in God and walk in truth, we need more critical attention to it.
To fix the inner circle a community, church and state, we must start earlier than most small communities of our families, in our families there should be coaching the mental, spiritual and knowledge. Change the way we think on the truth of the Word of God is to be started from the parents or ourselves before they escalate into a bigger community, and when we became a proficient in science is also the fear of God then we will be the ones used in a positive change in society, church and state.
The ministry of Jesus Christ in this world more than 3 years is not enough for the disciples. When it arrived crucifixion, wobbly the inner circle their service and Judas one of his disciples betrayed him by selling him to the priests at a price of 30 pieces of silver, the price is the price of a slave in the Old Testament. In Exodus 21:32 says: "If the ox shall push a manservant or a maidservant; he shall give unto their master thirty shekels of silver, and the ox shall be stoned.”
Peter, in Matthew 16:15-16, says: “He saith unto them, But whom say ye that I am? And Simon Peter answered and said, Thou art the Christ, the Son of the living God.” Peter's statement is inconsistent with his actions when Jesus was arrested to be crucified, Satan has entered the circle of Jesus' ministry, shake and dragged Peter and Jude also makes other disciples fled leaving him.
Circle in a faltering in the church or ministry will result in loss of attitude our fellowship with God, and make our relationship with God the more distant and dry. Even Judas in his remorse he eventually committed suicide. But Jesus in his resurrection reaffirming his ministry and restore the faith and spirit of the disciples in his ministry. Including us who want to be restored to the people who qualified, full of science and faith to be engaged in nation and state, church, community service and be a witness to the glory of God.
King Nebuchadnezzar saw an opportunity to build a stronger inner circle again in the events that harsh colonial life in his era. In Daniel 1:1-5 in the telling:
In the third year of the reign of Jehoiakim king of Judah came Nebuchadnezzar king of Babylon unto Jerusalem, and besieged it. And the Lord gave Jehoiakim king of Judah into his hand, with part of the vessels of the house of God: which he carried into the land of Shinar to the house of his god; and he brought the vessels into the treasure house of his god. And the king spake unto Ashpenaz the master of his eunuchs, that he should bring certain of the children of Israel, and of the king's seed, and of the princes; Children in whom was no blemish, but well favoured, and skilful in all wisdom, and cunning in knowledge, and understanding science, and such as had ability in them to stand in the king's palace, and whom they might teach the learning and the tongue of the Chaldeans. And the king appointed them a daily provision of the king's meat, and of the wine which he drank: so nourishing them three years, that at the end thereof they might stand before the king.
King Nebuchadnezzar strengthen the country by hiring people who come from descendant captive king, the nobility, the younger generation who have the skills and broad understanding of science. And Daniel, Hananiah, Mishael and Azariah were included. King Nebuchadnezzar was the king who did not fear God but he knows use what was available in a circle around him to improve his country is with them a decent place to assist in the care of his administration.
Collusion and nepotism do not apply in his administration and he understood the ability of every young generation capable, to be in his employ. Sometimes we as people who believe in God just do not know how to strengthen the inner circle of family life, community, church, nation and even our country. In fact we tend to damage by placing people who are not proficient in it and do not trust the younger generation who are competent to engage in it so that collusion and nepotism is rampant in all our lives.
In the countries we are most pleased to maintain the status quo, static state that deliberately to prevent the onset of instability (which is made-up) in order to defend certain interests to remain awake and in general they maintain their advantage or privilege that can not be separated, no matter whether it will harm other people or communities that to them is something that is legal. And much more sinister when the status quo prevailing in the church or our ministry.
Where there are some people who seek personal gain at the church or ministry, and usually they will not want anymore to back down or be removed from their place although clearly been violated church rules and not according to God's truth, because it is a person who believes in God and walk in truth, we need more critical attention to it.
To fix the inner circle a community, church and state, we must start earlier than most small communities of our families, in our families there should be coaching the mental, spiritual and knowledge. Change the way we think on the truth of the Word of God is to be started from the parents or ourselves before they escalate into a bigger community, and when we became a proficient in science is also the fear of God then we will be the ones used in a positive change in society, church and state.
The ministry of Jesus Christ in this world more than 3 years is not enough for the disciples. When it arrived crucifixion, wobbly the inner circle their service and Judas one of his disciples betrayed him by selling him to the priests at a price of 30 pieces of silver, the price is the price of a slave in the Old Testament. In Exodus 21:32 says: "If the ox shall push a manservant or a maidservant; he shall give unto their master thirty shekels of silver, and the ox shall be stoned.”
Peter, in Matthew 16:15-16, says: “He saith unto them, But whom say ye that I am? And Simon Peter answered and said, Thou art the Christ, the Son of the living God.” Peter's statement is inconsistent with his actions when Jesus was arrested to be crucified, Satan has entered the circle of Jesus' ministry, shake and dragged Peter and Jude also makes other disciples fled leaving him.
Circle in a faltering in the church or ministry will result in loss of attitude our fellowship with God, and make our relationship with God the more distant and dry. Even Judas in his remorse he eventually committed suicide. But Jesus in his resurrection reaffirming his ministry and restore the faith and spirit of the disciples in his ministry. Including us who want to be restored to the people who qualified, full of science and faith to be engaged in nation and state, church, community service and be a witness to the glory of God.
Lingkaran Dalam
Kehidupan yang begitu keras selalu datang dalam hidup setiap orang, entah itu tua, muda, besar, kecil, anak atau dewasa semuanya tidak akan terlewatkan dan kadang memporak-porandakan bangunan kehidupan seseorang, keluarga atau masyarakat, apalagi ketika pondasi kehidupan kita ini hanya dibangun diatas setumpuk pasir maka pohon kehidupan kita akan segera hancur.
Raja Nebukadnezar melihat suatu kesempatan untuk membangun suatu lingkaran dalam yang lebih kuat lagi dalam peristiwa-peristiwa jajahan kehidupan yang keras dijamannya. Dalam Daniel 1:1-5 di ceritakan: “Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya.
Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, yakni orang-orang muda yang tidak ada banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim.
Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja.”
Raja Nebukadnezar memperkuat negaranya dengan mempekerjakan orang-orang tawanannya yang berasal dari keturunan raja, kaum bangsawan, generasi muda yang mempunyai kecakapan dan pengertian yang luas tentang ilmu pengetahuan. Dan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya adalah termasuk didalamnya. Raja Nebukadnesar adalah raja yang tidak takut akan Tuhan tapi dia tahu memanfaatkan apa yang ada disekelilingnya untuk memperbaiki lingkaran dalam negaranya yaitu dengan menempatkan mereka yang layak untuk membantu dalam mengurus pemerintahannya.
Kolusi dan nepotisme tidak berlaku dalam pemerintahannya dan dia mengerti akan kemampuan setiap generasi muda yang cakap, untuk bisa di pekerjakannya. Kadang kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan justru tidak tahu bagaimana memperkuat lingkaran dalam kehidupan keluarga, masyarakat, gereja bahkan bangsa negara kita. Bahkan kita cenderung untuk merusak dengan menempatkan orang-orang yang tidak cakap didalamnya dan tidak mempercayai generasi muda yang cakap untuk terlibat di dalamnya sehingga kolusi dan nepotisme merajalela di dalam setiap kehidupan kita.
Di dalam negara kita paling senang untuk mempertahankan status quo, keadaan statik yang sengaja dibuat untuk mencegah timbulnya ketidakstabilan (yang di buat-buat) demi mempertahankan kepentingan-kepentingan tertentu untuk tetap terjaga dan secara umum mereka mempertahankan keuntungan atau hak istimewa mereka supaya tidak lepas, tak peduli apakah hal itu akan merugikan orang lain atau masyarakat hal itu bagi mereka adalah sesuatu yang halal. Dan lebih mengerikan lagi apabila status quo itu berlaku di dalam gereja atau pelayanan kita.
Dimana ada sebagian orang yang mencari keuntungan pribadi di dalam gereja atau pelayanan, dan biasanya mereka tidak akan mau lagi untuk mundur atau disingkirkan dari tempat mereka walaupun jelas-jelas sudah melanggar aturan gereja dan tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan, karena itu sebagai orang yang percaya kepada Tuhan dan berjalan dalam kebenaran, kita harus lebih kritis lagi memperhatikan hal tersebut.
Untuk memperbaiki lingkaran dalam suatu masyarakat, gereja dan negara, kita harus memulainya lebih dahulu dari komunitas yang paling kecil yaitu keluarga kita, di dalam keluarga kita harus ada pembinaan mental, rohani dan pengetahuan. Perubahan cara pikir kita berdasarkan kebenaran Firman Tuhan itu harus dimulai dari orang tua atau diri kita sendiri sebelum meluas ke komunitas yang lebih besar lagi, dan ketika kita menjadi seorang yang cakap dalam ilmu pengetahuan juga takut akan Tuhan maka kita akan menjadi orang-orang yang dipakai dalam perubahan yang positif di dalam masyarakat, gereja dan negara.
Pelayanan Yesus Kristus di dunia ini kurang lebih 3 tahun tidak cukup untuk murid-muridNya. Ketika penyaliban itu tiba, lingkaran dalam pelayanan mereka goyah dan Yudas salah satu murid-Nya mengkhianati-Nya dengan menjual-Nya kepada Imam-imam dengan harga 30 keping perak, harga tersebut adalah harga seorang budak dalam Perjanjian Lama. Dalam Kitab Keluaran 21:32 mengatakan: “Tetapi jika lembu itu menanduk seorang budak laki-laki atau perempuan, maka pemiliknya harus membayar tiga puluh syikal perak kepada tuan budak itu, dan lembu itu harus dilempari mati dengan batu.”
Petrus, dalam Injil Matius 16:15-16, ketika ditanya Yesus: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini? Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”. Pernyataan Petrus tidak sejalan dengan tindakannya ketika Yesus ditangkap untuk disalibkan, Iblis telah masuk lingkaran dalam pelayanan Yesus, menggoyahkan dan menyeret Yudas juga membuat Petrus beserta murid-murid yang lain melarikan diri meninggalkan-Nya.
Lingkaran dalam yang goyah dalam gereja atau pelayanan akan mengakibatkan hilangnya sikap persekutuan kita dengan Tuhan, dan menjadikan hubungan kita dengan Tuhan semakin jauh dan kering. Bahkan Yudas dalam peyesalan akhirnya dia bunuh diri. Tetapi Yesus dalam kebangkitan-Nya meneguhkan kembali pelayanan-Nya dan merestorasi kembali iman dan semangat murid-murid dalam pelayanannya. Termasuk kita yang mau untuk dipulihkan menjadi orang-orang yang cakap, penuh ilmu pengetahuan dan iman yang teguh untuk dipakai didalam bangsa dan negara, gereja, pelayanan dan masyarakat menjadi saksi untuk kemuliaan Tuhan.
Raja Nebukadnezar melihat suatu kesempatan untuk membangun suatu lingkaran dalam yang lebih kuat lagi dalam peristiwa-peristiwa jajahan kehidupan yang keras dijamannya. Dalam Daniel 1:1-5 di ceritakan: “Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya.
Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, yakni orang-orang muda yang tidak ada banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim.
Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja.”
Raja Nebukadnezar memperkuat negaranya dengan mempekerjakan orang-orang tawanannya yang berasal dari keturunan raja, kaum bangsawan, generasi muda yang mempunyai kecakapan dan pengertian yang luas tentang ilmu pengetahuan. Dan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya adalah termasuk didalamnya. Raja Nebukadnesar adalah raja yang tidak takut akan Tuhan tapi dia tahu memanfaatkan apa yang ada disekelilingnya untuk memperbaiki lingkaran dalam negaranya yaitu dengan menempatkan mereka yang layak untuk membantu dalam mengurus pemerintahannya.
Kolusi dan nepotisme tidak berlaku dalam pemerintahannya dan dia mengerti akan kemampuan setiap generasi muda yang cakap, untuk bisa di pekerjakannya. Kadang kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan justru tidak tahu bagaimana memperkuat lingkaran dalam kehidupan keluarga, masyarakat, gereja bahkan bangsa negara kita. Bahkan kita cenderung untuk merusak dengan menempatkan orang-orang yang tidak cakap didalamnya dan tidak mempercayai generasi muda yang cakap untuk terlibat di dalamnya sehingga kolusi dan nepotisme merajalela di dalam setiap kehidupan kita.
Di dalam negara kita paling senang untuk mempertahankan status quo, keadaan statik yang sengaja dibuat untuk mencegah timbulnya ketidakstabilan (yang di buat-buat) demi mempertahankan kepentingan-kepentingan tertentu untuk tetap terjaga dan secara umum mereka mempertahankan keuntungan atau hak istimewa mereka supaya tidak lepas, tak peduli apakah hal itu akan merugikan orang lain atau masyarakat hal itu bagi mereka adalah sesuatu yang halal. Dan lebih mengerikan lagi apabila status quo itu berlaku di dalam gereja atau pelayanan kita.
Dimana ada sebagian orang yang mencari keuntungan pribadi di dalam gereja atau pelayanan, dan biasanya mereka tidak akan mau lagi untuk mundur atau disingkirkan dari tempat mereka walaupun jelas-jelas sudah melanggar aturan gereja dan tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan, karena itu sebagai orang yang percaya kepada Tuhan dan berjalan dalam kebenaran, kita harus lebih kritis lagi memperhatikan hal tersebut.
Untuk memperbaiki lingkaran dalam suatu masyarakat, gereja dan negara, kita harus memulainya lebih dahulu dari komunitas yang paling kecil yaitu keluarga kita, di dalam keluarga kita harus ada pembinaan mental, rohani dan pengetahuan. Perubahan cara pikir kita berdasarkan kebenaran Firman Tuhan itu harus dimulai dari orang tua atau diri kita sendiri sebelum meluas ke komunitas yang lebih besar lagi, dan ketika kita menjadi seorang yang cakap dalam ilmu pengetahuan juga takut akan Tuhan maka kita akan menjadi orang-orang yang dipakai dalam perubahan yang positif di dalam masyarakat, gereja dan negara.
Pelayanan Yesus Kristus di dunia ini kurang lebih 3 tahun tidak cukup untuk murid-muridNya. Ketika penyaliban itu tiba, lingkaran dalam pelayanan mereka goyah dan Yudas salah satu murid-Nya mengkhianati-Nya dengan menjual-Nya kepada Imam-imam dengan harga 30 keping perak, harga tersebut adalah harga seorang budak dalam Perjanjian Lama. Dalam Kitab Keluaran 21:32 mengatakan: “Tetapi jika lembu itu menanduk seorang budak laki-laki atau perempuan, maka pemiliknya harus membayar tiga puluh syikal perak kepada tuan budak itu, dan lembu itu harus dilempari mati dengan batu.”
Petrus, dalam Injil Matius 16:15-16, ketika ditanya Yesus: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini? Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”. Pernyataan Petrus tidak sejalan dengan tindakannya ketika Yesus ditangkap untuk disalibkan, Iblis telah masuk lingkaran dalam pelayanan Yesus, menggoyahkan dan menyeret Yudas juga membuat Petrus beserta murid-murid yang lain melarikan diri meninggalkan-Nya.
Lingkaran dalam yang goyah dalam gereja atau pelayanan akan mengakibatkan hilangnya sikap persekutuan kita dengan Tuhan, dan menjadikan hubungan kita dengan Tuhan semakin jauh dan kering. Bahkan Yudas dalam peyesalan akhirnya dia bunuh diri. Tetapi Yesus dalam kebangkitan-Nya meneguhkan kembali pelayanan-Nya dan merestorasi kembali iman dan semangat murid-murid dalam pelayanannya. Termasuk kita yang mau untuk dipulihkan menjadi orang-orang yang cakap, penuh ilmu pengetahuan dan iman yang teguh untuk dipakai didalam bangsa dan negara, gereja, pelayanan dan masyarakat menjadi saksi untuk kemuliaan Tuhan.
Dark Night Of Jesus
The worst night of Jesus marked a crisis for the crisis, at first he did not see the prayer answered. Jesus had just apply very sad to God. "And he went a little farther, and fell on his face, and prayed, saying, O my Father, if it be possible, let this cup pass from me: nevertheless not as I will, but as thou wilt". (Matthew 26:39).
When it was not to pray in an atmosphere of calm and quiet, according to Matthew, Jesus "felt sad and anxious" (Matthew 26:37), the Master "fell to the ground" and called out to God. Luke tells us that Jesus "suffered" and "Sweat like blood dripping onto the ground" (Matthew 22:44).
Jesus' prayer was not answered, whether the God who has cattle on a thousand hills, will refuse to give something to the children of his own? that's what happened that night. Jesus had to face the problem of prayer is not granted and it was only the beginning of the struggle to be faced later on that later "along with Judas, came too many people who carry swords and clubs.
They were told by the chief priests and the elders ... and then the crowd came forward and arrested Jesus "(Matthew 25:47, 52). Judas comes with an angry mob, the mass was carrying yet another crisis. Jesus did not just have to face the prayer is answered, but he also had to deal with services that do not bring results. It is precisely those who He came to save now come arrest him.
Perhaps in the shadow of our Judas led a dozen soldiers or fewer, and they took a two-lanterns, but Matthew says that "many people" came to arrest Jesus. John even more specifically, the term used is the Greek word speira or "an army" (John 18:3). Least speira describe the forces of two hundred soldiers. This word can also describe a detachment of one thousand nine hundred soldiers.
John's picture of speira would be more appropriate if the human flow imagine the kind of form a few hundred soldiers into the garden, plus a number of spectators or the countless people, who by Matthew just called "the people" then we can describe a bunch of people many come into the park.
From a bunch of people that no one wants to defend Jesus, he has helped so many people in the cases of magic which he did, but who would dare claim that he is innocent, nothing! possible mob did not know to do more than just watching because their contact with Jesus was so short but what about the students? they even know more about Jesus.
Drugs most bitter to swallow Jesus is "Treason is almost unbelievable from the students of his" so Judas is not the only traitor, Matthew admitted: "But all this happened so that there is even written by the prophet - prophet. Then all the disciples left Him and fled ". (Matthew 26:56). And what Peter said earlier: "Although I should die with thee, I will not deny you." (Matthew 26:35).
All the promises will be loyal, but this all away, what we see is treason. Followers of his have been away from Him, the crowd had rejected Him, and God does not hear him then we can imagine what that must be met Jesus that night.
From the human perspective, Jesus' world collapsed. No answer from heaven, no help from the people, there is no loyalty from friends of his. Jesus as high as the neck of the garbage so we can describe his situation but what we see Jesus differently! He is not oblivious to the trash, but he saw something else bigger than a garbage wrapped his body.
Conscious or not we are living in the world of garbage, trash unwanted into our lives on a regular basis. We have prayers answered no, there are dreams that do not bear fruit betrayals, too unbelievable, and maybe we never left the garbage bag full of accidents and hurt, what shall we do with all that?
When it was not to pray in an atmosphere of calm and quiet, according to Matthew, Jesus "felt sad and anxious" (Matthew 26:37), the Master "fell to the ground" and called out to God. Luke tells us that Jesus "suffered" and "Sweat like blood dripping onto the ground" (Matthew 22:44).
Jesus' prayer was not answered, whether the God who has cattle on a thousand hills, will refuse to give something to the children of his own? that's what happened that night. Jesus had to face the problem of prayer is not granted and it was only the beginning of the struggle to be faced later on that later "along with Judas, came too many people who carry swords and clubs.
They were told by the chief priests and the elders ... and then the crowd came forward and arrested Jesus "(Matthew 25:47, 52). Judas comes with an angry mob, the mass was carrying yet another crisis. Jesus did not just have to face the prayer is answered, but he also had to deal with services that do not bring results. It is precisely those who He came to save now come arrest him.
Perhaps in the shadow of our Judas led a dozen soldiers or fewer, and they took a two-lanterns, but Matthew says that "many people" came to arrest Jesus. John even more specifically, the term used is the Greek word speira or "an army" (John 18:3). Least speira describe the forces of two hundred soldiers. This word can also describe a detachment of one thousand nine hundred soldiers.
John's picture of speira would be more appropriate if the human flow imagine the kind of form a few hundred soldiers into the garden, plus a number of spectators or the countless people, who by Matthew just called "the people" then we can describe a bunch of people many come into the park.
From a bunch of people that no one wants to defend Jesus, he has helped so many people in the cases of magic which he did, but who would dare claim that he is innocent, nothing! possible mob did not know to do more than just watching because their contact with Jesus was so short but what about the students? they even know more about Jesus.
Drugs most bitter to swallow Jesus is "Treason is almost unbelievable from the students of his" so Judas is not the only traitor, Matthew admitted: "But all this happened so that there is even written by the prophet - prophet. Then all the disciples left Him and fled ". (Matthew 26:56). And what Peter said earlier: "Although I should die with thee, I will not deny you." (Matthew 26:35).
All the promises will be loyal, but this all away, what we see is treason. Followers of his have been away from Him, the crowd had rejected Him, and God does not hear him then we can imagine what that must be met Jesus that night.
From the human perspective, Jesus' world collapsed. No answer from heaven, no help from the people, there is no loyalty from friends of his. Jesus as high as the neck of the garbage so we can describe his situation but what we see Jesus differently! He is not oblivious to the trash, but he saw something else bigger than a garbage wrapped his body.
Conscious or not we are living in the world of garbage, trash unwanted into our lives on a regular basis. We have prayers answered no, there are dreams that do not bear fruit betrayals, too unbelievable, and maybe we never left the garbage bag full of accidents and hurt, what shall we do with all that?
Malam Gelap Bagi Yesus
Malam terburuk dari Yesus ditandai krisis demi krisis, mula-mula Ia melihat doa yang tidak terkabul. Yesus baru saja mengajukan permohonan amat sedih kepada Allah. “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:39).
Saat itu bukan berdoa dalam suasana tenang dan hening, menurut Matius, Yesus “merasa sedih dan gelisah” (Matius 26:37), sang Guru “tersungkur ke tanah” dan berseru kepada Tuhan. Lukas mengisahkan bahwa Yesus “sangat menderita” dan “Keringatnya seperti darah menetes ketanah” (Matius 22:44). Doa Yesus tidak dijawab, apakah Allah yang memiliki ternak di seribu bukit, akan menolak memberikan sesuatu kepada anak-Nya sendiri? itulah yang terjadi malam itu.
Yesus harus menghadapi masalah doa yang tidak dikabulkan dan itu baru pemulaan dari pergumulan yang akan dihadapi nanti yang kemudian “bersama sama dengan Yudas, datang juga banyak orang yang membawa pedang dan pentungan.
Mereka disuruh oleh imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin Yahudi…kemudian orang banyak itu maju dan menangkap Yesus” (Matius 25:47, 52). Yudas datang dengan massa yang marah, massa ini membawa krisis lain lagi. Yesus tidak saja harus menghadapi doa yang tidak terkabul, tetapi ia juga harus menghadapi pelayanan yang tidak membawa hasil. Justru orang yang Ia datang selamatkan sekarang datang menangkap Dia.
Mungkin dalam bayangan kita Yudas memimpin selusin tentara atau lebih sedikit dan mereka membawa satu dua lentera, namun Matius mengatakan bahwa “banyak orang” datang menangkap Yesus. Yohanes bahkan lebih spesifik lagi, istilah yang dipakainya adalah kata Yunani speira atau “sepasukan tentara” (Yohanes 18:3). Sedikitnya speira menggambarkan pasukan dua ratus tentara. Kata ini dapat juga menggambarkan satu detasemen sebesar seribu sembilan ratus tentara.
Gambaran Yohanes tentang speira akan lebih tepat kalau membayangkan semacam arus manusia berupa beberapa ratus tentara yang masuk ke taman itu, di tambah jumlah penonton-penonton atau masyarakat tak terhitung jumlahnya, yang oleh matius hanya disebut “orang banyak” maka kita dapat gambarkan adalah segerombolan orang banyak yang datang masuk ke taman itu.
Dari segerombolan orang banyak itu tak ada satu pun yang mau membela Yesus, Ia sudah begitu banyak menolong orang dalam perkara-perkara yang ajaib yang Ia lakukan, tapi siapa yang berani menyatakan bahwa Dia tidak bersalah, tak ada satu pun! mungkin gerombolan orang banyak itu tidak tahu untuk berbuat lebih dari sekedar menonton karena kontak mereka dengan Yesus begitu singkat tetapi bagaimana dengan para murid? mereka bahkan tahu lebih banyak tentang Yesus.
Obat paling pahit yang harus ditelan Yesus ialah “Pengkhianatan yang hampir-hampir tak dapat dipercaya dari murid-muridNya” jadi Yudas bukan satu-satunya pengkhianat, Matius mengaku: “Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi. Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri”. (Matius 26:56). Padahal apa yang dikatakan Petrus sebelumnya: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” (Matius 26:35).
Semua berjanji akan setia, namun demikian semua melarikan diri, yang kita lihat adalah pengkhianatan. Pengikut-pengikutNya telah meninggalkan Dia, orang banyak telah menolak Dia dan Allah tidak mendengar Dia maka kita dapat membayangkan apa yang harus dihadapi Yesus malam itu.
Dari sudut pandang manusia, dunia Yesus ambruk. Tidak ada jawaban dari Sorga, tidak ada bantuan dari orang, tidak ada kesetiaan dari teman-temanNya. Yesus setinggi leher dari sampah begitu kita bisa gambarkan keadaanNya tapi apa yang dilihat Yesus berbeda! bukan Ia tidak sadar akan sampah itu, tetapi Ia melihat hal yang lain yang lebih besar dari sekedar sampah yang membungkus tubuhNya.
Sadar atau tidak kita sedang hidup di dunia sampah, sampah yang tidak diinginkan masuk ke dalam hidup kita secara teratur. Kita mempunyai doa-doa yang tak dijawab, ada impian yang tidak berbuah juga pengkhianatan-pengkhianatan yang sulit dipercaya dan mungkin kita pernah diserahi sekantong penuh sampah kecelakaan-kecelakaan dan sakit hati, apakah yang akan kita perbuat dengan semua itu?
Saat itu bukan berdoa dalam suasana tenang dan hening, menurut Matius, Yesus “merasa sedih dan gelisah” (Matius 26:37), sang Guru “tersungkur ke tanah” dan berseru kepada Tuhan. Lukas mengisahkan bahwa Yesus “sangat menderita” dan “Keringatnya seperti darah menetes ketanah” (Matius 22:44). Doa Yesus tidak dijawab, apakah Allah yang memiliki ternak di seribu bukit, akan menolak memberikan sesuatu kepada anak-Nya sendiri? itulah yang terjadi malam itu.
Yesus harus menghadapi masalah doa yang tidak dikabulkan dan itu baru pemulaan dari pergumulan yang akan dihadapi nanti yang kemudian “bersama sama dengan Yudas, datang juga banyak orang yang membawa pedang dan pentungan.
Mereka disuruh oleh imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin Yahudi…kemudian orang banyak itu maju dan menangkap Yesus” (Matius 25:47, 52). Yudas datang dengan massa yang marah, massa ini membawa krisis lain lagi. Yesus tidak saja harus menghadapi doa yang tidak terkabul, tetapi ia juga harus menghadapi pelayanan yang tidak membawa hasil. Justru orang yang Ia datang selamatkan sekarang datang menangkap Dia.
Mungkin dalam bayangan kita Yudas memimpin selusin tentara atau lebih sedikit dan mereka membawa satu dua lentera, namun Matius mengatakan bahwa “banyak orang” datang menangkap Yesus. Yohanes bahkan lebih spesifik lagi, istilah yang dipakainya adalah kata Yunani speira atau “sepasukan tentara” (Yohanes 18:3). Sedikitnya speira menggambarkan pasukan dua ratus tentara. Kata ini dapat juga menggambarkan satu detasemen sebesar seribu sembilan ratus tentara.
Gambaran Yohanes tentang speira akan lebih tepat kalau membayangkan semacam arus manusia berupa beberapa ratus tentara yang masuk ke taman itu, di tambah jumlah penonton-penonton atau masyarakat tak terhitung jumlahnya, yang oleh matius hanya disebut “orang banyak” maka kita dapat gambarkan adalah segerombolan orang banyak yang datang masuk ke taman itu.
Dari segerombolan orang banyak itu tak ada satu pun yang mau membela Yesus, Ia sudah begitu banyak menolong orang dalam perkara-perkara yang ajaib yang Ia lakukan, tapi siapa yang berani menyatakan bahwa Dia tidak bersalah, tak ada satu pun! mungkin gerombolan orang banyak itu tidak tahu untuk berbuat lebih dari sekedar menonton karena kontak mereka dengan Yesus begitu singkat tetapi bagaimana dengan para murid? mereka bahkan tahu lebih banyak tentang Yesus.
Obat paling pahit yang harus ditelan Yesus ialah “Pengkhianatan yang hampir-hampir tak dapat dipercaya dari murid-muridNya” jadi Yudas bukan satu-satunya pengkhianat, Matius mengaku: “Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi. Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri”. (Matius 26:56). Padahal apa yang dikatakan Petrus sebelumnya: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” (Matius 26:35).
Semua berjanji akan setia, namun demikian semua melarikan diri, yang kita lihat adalah pengkhianatan. Pengikut-pengikutNya telah meninggalkan Dia, orang banyak telah menolak Dia dan Allah tidak mendengar Dia maka kita dapat membayangkan apa yang harus dihadapi Yesus malam itu.
Dari sudut pandang manusia, dunia Yesus ambruk. Tidak ada jawaban dari Sorga, tidak ada bantuan dari orang, tidak ada kesetiaan dari teman-temanNya. Yesus setinggi leher dari sampah begitu kita bisa gambarkan keadaanNya tapi apa yang dilihat Yesus berbeda! bukan Ia tidak sadar akan sampah itu, tetapi Ia melihat hal yang lain yang lebih besar dari sekedar sampah yang membungkus tubuhNya.
Sadar atau tidak kita sedang hidup di dunia sampah, sampah yang tidak diinginkan masuk ke dalam hidup kita secara teratur. Kita mempunyai doa-doa yang tak dijawab, ada impian yang tidak berbuah juga pengkhianatan-pengkhianatan yang sulit dipercaya dan mungkin kita pernah diserahi sekantong penuh sampah kecelakaan-kecelakaan dan sakit hati, apakah yang akan kita perbuat dengan semua itu?
Copper sea
There is a special sense in the Word of God to the believer who was raised as Jews. In the Old Testament, in the Tabernacle there is a large bowl made of a copper vessel calledwashing, at the Temple of Solomon, this is called Copper Sea / Sea Cast (Bronze Sea). 15 feet in diameter and holds approximately 8000 gallons of water for the priests for washing.
In 2 Chronicles 4 is told:
Moreover he made an altar of brass, twenty cubits the length thereof, and twenty cubits the breadth thereof, and ten cubits the height there of. Also he made a molten sea of ten cubits from brim to brim, round in compass, and five cubits the height thereof; and a line of thirty cubits did compass it round about. And under it was the similitude of oxen, which did compass it round about: ten in a cubit, compassing the sea round about.
Two rows of oxen were cast, when it was cast. It stood upon twelve oxen, three looking toward the north, and three looking toward the west, and three looking toward the south, and three looking toward the east: and the sea was set above upon them, and all their hinder parts were inward. And the thickness of it was an handbreadth, and the brim of it like the work of the brim of a cup, with flowers of lilies; and it received and held three thousand baths.
He made also ten lavers, and put five on the right hand, and five on the left, to wash in them: such things as they offered for the burnt offering they washed in them; but the sea was for the priests to wash in. And he made ten candlesticks of gold according to their form, and set them in the temple, five on the right hand, and five on the left. He made also ten tables, and placed them in the temple, five on the right side, and five on the left. And he made an hundred basons of gold.
Furthermore he made the court of the priests, and the great court, and doors for the court, and overlaid the doors of them with brass. And he set the sea on the right side of the east end, over against the south. And Huram made the pots, and the shovels, and the basons. And Huram finished the work that he was to make for king Solomon for the house of God; To wit, the two pillars, and the pommels, and the chapiters which were on the top of the two pillars, and the two wreaths to cover the two pommels of the chapiters which were on the top of the pillars;
And four hundred pomegranates on the two wreaths; two rows of pomegranates on each wreath, to cover the two pommels of the chapiters which were upon the pillars. He made also bases, and lavers made he upon the bases; One sea, and twelve oxen under it. The pots also, and the shovels, and the fleshhooks, and all their instruments, did Huram his father make to king Solomon for the house of the LORD of bright brass.
In the plain of Jordan did the king cast them, in the clay ground between Succoth and Zeredathah. Thus Solomon made all these vessels in great abundance: for the weight of the brass could not be found out.
And Solomon made all the vessels that were for the house of God, the golden altar also, and the tables whereon the shewbread was set; Moreover the candlesticks with their lamps, that they should burn after the manner before the oracle, of pure gold; And the flowers, and the lamps, and the tongs, made he of gold, and that perfect gold; And the snuffers, and the basons, and the spoons, and the censers, of pure gold: and the entry of the house, the inner doors thereof for the most holy place, and the doors of the house of the temple, were of gold.
Washing vessel made of copper is placed in a special place both in the Tabernacle andthe Temple. His position was among the worshipers and all other parts of the Tabernacleand give meaning to cleaning. A devotee is required to wash themselves before being allowed to worship, in Exodus 30:17-21, God commanded Moses to make a regulationrelating to the priesthood by the laver of copper.
The priests are required to wash their hands and their feet before they can serve before the Lord. Hands and their feet like hands and feet, are the parts that have touched the things that exist in this world. Hands and feet are a symbol of our openness to the world a place where we live, filled with sin and the fall.
On days when the nation of Israel to worship God in the Tabernacle and in the temple, the priests had to go through a ritual washing before they are allowed to serve God for the benefit of the people
In 2 Chronicles 4 is told:
Moreover he made an altar of brass, twenty cubits the length thereof, and twenty cubits the breadth thereof, and ten cubits the height there of. Also he made a molten sea of ten cubits from brim to brim, round in compass, and five cubits the height thereof; and a line of thirty cubits did compass it round about. And under it was the similitude of oxen, which did compass it round about: ten in a cubit, compassing the sea round about.
Two rows of oxen were cast, when it was cast. It stood upon twelve oxen, three looking toward the north, and three looking toward the west, and three looking toward the south, and three looking toward the east: and the sea was set above upon them, and all their hinder parts were inward. And the thickness of it was an handbreadth, and the brim of it like the work of the brim of a cup, with flowers of lilies; and it received and held three thousand baths.
He made also ten lavers, and put five on the right hand, and five on the left, to wash in them: such things as they offered for the burnt offering they washed in them; but the sea was for the priests to wash in. And he made ten candlesticks of gold according to their form, and set them in the temple, five on the right hand, and five on the left. He made also ten tables, and placed them in the temple, five on the right side, and five on the left. And he made an hundred basons of gold.
Furthermore he made the court of the priests, and the great court, and doors for the court, and overlaid the doors of them with brass. And he set the sea on the right side of the east end, over against the south. And Huram made the pots, and the shovels, and the basons. And Huram finished the work that he was to make for king Solomon for the house of God; To wit, the two pillars, and the pommels, and the chapiters which were on the top of the two pillars, and the two wreaths to cover the two pommels of the chapiters which were on the top of the pillars;
And four hundred pomegranates on the two wreaths; two rows of pomegranates on each wreath, to cover the two pommels of the chapiters which were upon the pillars. He made also bases, and lavers made he upon the bases; One sea, and twelve oxen under it. The pots also, and the shovels, and the fleshhooks, and all their instruments, did Huram his father make to king Solomon for the house of the LORD of bright brass.
In the plain of Jordan did the king cast them, in the clay ground between Succoth and Zeredathah. Thus Solomon made all these vessels in great abundance: for the weight of the brass could not be found out.
And Solomon made all the vessels that were for the house of God, the golden altar also, and the tables whereon the shewbread was set; Moreover the candlesticks with their lamps, that they should burn after the manner before the oracle, of pure gold; And the flowers, and the lamps, and the tongs, made he of gold, and that perfect gold; And the snuffers, and the basons, and the spoons, and the censers, of pure gold: and the entry of the house, the inner doors thereof for the most holy place, and the doors of the house of the temple, were of gold.
Washing vessel made of copper is placed in a special place both in the Tabernacle andthe Temple. His position was among the worshipers and all other parts of the Tabernacleand give meaning to cleaning. A devotee is required to wash themselves before being allowed to worship, in Exodus 30:17-21, God commanded Moses to make a regulationrelating to the priesthood by the laver of copper.
The priests are required to wash their hands and their feet before they can serve before the Lord. Hands and their feet like hands and feet, are the parts that have touched the things that exist in this world. Hands and feet are a symbol of our openness to the world a place where we live, filled with sin and the fall.
On days when the nation of Israel to worship God in the Tabernacle and in the temple, the priests had to go through a ritual washing before they are allowed to serve God for the benefit of the people
Laut Tembaga
Ada sebuah pengertian yang khusus didalam Firman Allah untuk orang percaya yang dibesarkan sebagai orang yahudi. Dalam Perjanjian Lama, di dalam Tabernakel ada sebuah baskom besar terbuat dari tembaga yang disebut Bejana Pembasuhan, di dalam Bait Allah Salomo, ini disebut Laut Tembaga/Laut Tuangan (Bronze Sea). Diameternya 15 kaki dan menampung kira-kira 8000 galon air bagi imam untuk pembasuhan.
Dalam 2 Tawarikh 4 diceritakan: “Lalu ia membuat mezbah tembaga yang dua puluh hasta panjangnya, dan dua puluh hasta lebarnya dan sepuluh hasta tingginya. Kemudian dibuatnyalah "laut" tuangan yang sepuluh hasta dari tepi ke tepi, bundar keliling, lima hasta tingginya, dan yang dapat dililit berkeliling oleh tali yang tiga puluh hasta panjangnya.
Di sebelah bawah tepinya ada gambar lembu-lembu yang mengelilinginya sama sekali, sepuluh dalam sehasta, merangkum "laut" itu berkeliling; lembu itu dua jajar, dituang setuangan dengan bejana itu. "Laut" itu menumpang di atas dua belas lembu, tiga menghadap ke utara dan tiga menghadap ke barat, tiga menghadap ke selatan dan tiga menghadap ke timur; "laut" itu menumpang di atasnya, sedang segala buntut lembu itu menuju ke dalam.
Tebal "laut" itu setapak tangan dan tepinya serupa tepi piala, seperti bunga bakung yang berkembang. "Laut" itu dapat memuat tiga ribu bat air. Lagipula dibuatnya sepuluh bejana pembasuhan dan ditaruhnya lima pada sisi kanan dan lima pada sisi kiri sebagai tempat pembasuhan; di situ orang membasuh apa yang diperlukan untuk korban bakaran, sedang "laut" itu adalah untuk para imam sebagai tempat membasuh.
Ia membuat sepuluh kandil emas sesuai dengan rancangannya dan menaruhnya di dalam Bait Suci, lima di sebelah kanan dan lima di sebelah kiri. Selanjutnya ia membuat sepuluh meja dan menempatkannya di dalam Bait Suci, lima di sebelah kanan dan lima di sebelah kiri; ia membuat pula seratus bokor penyiraman dari emas. Ia membuat juga pelataran para imam, halaman besar dan pintu-pintu halaman itu; pintu-pintu itu dilapisinya dengan tembaga. "Laut" itu ditaruhnya pada sisi kanan, arah tenggara. Dan Huram membuat juga kuali-kuali, penyodok-penyodok dan bokor-bokor penyiraman.
Demikianlah Huram menyelesaikan pekerjaan yang harus dilakukannya bagi raja Salomo di rumah Allah, yakni kedua tiang, dengan kedua bulatan ganja di kepala tiang itu, kedua jala-jala yang menutup kedua bulatan ganja itu; keempat ratus buah delima untuk kedua jala-jala itu, dua jajar buah delima untuk satu jala-jala guna menutupi kedua bulatan ganja yang di atas tiang itu.
Juga telah dibuatnya kereta-kereta penopang dan bejana-bejana pembasuhan yang di atas kereta-kereta itu; "laut" yang satu itu dan kedua belas lembu di bawahnya. Kuali-kuali, penyodok-penyodok, garpu-garpu dan segala perlengkapan lain yang dibuat Huram-Abi bagi raja Salomo untuk rumah TUHAN adalah dari tembaga upaman. Raja menuang semuanya itu di Lembah Yordan di dalam tanah liat antara Sukot dan Zereda.
Salomo membuat segala perlengkapan itu dalam jumlah yang amat besar, sehingga berat tembaga itu tidaklah terhitung. Salomo membuat juga segala perlengkapan yang ada di rumah Allah, yakni mezbah dan meja-meja tempat menaruh roti sajian, lagipula kandil-kandil dari emas murni dengan pelita-pelitanya, untuk dinyalakan di depan ruang belakang sesuai dengan peraturan; kembang-kembangnya, pelita-pelitanya dan sepit-sepitnya, dari emas, semuanya dari emas murni; pisau-pisaunya, bokor-bokor penyiramannya, cawan-cawannya dan perbaraan-perbaraannya, dari emas murni; juga pintu masuk rumah itu, dan pintu-pintu yang di sebelah dalam ke tempat maha kudus, dan pintu-pintu ke ruang besar Bait Suci, semuanya dari emas.
Bejana Pembasuhan yang terbuat dari tembaga ini diletakkan pada tempat khusus baik di Tabernakel maupun di Bait Allah. Posisinya berada diantara para penyembah dan seluruh bagian Tabernakel yang lain dan memberi arti pembersihan. Seorang penyembah diwajibkan untuk membasuh dirinya sebelum diizinkan masuk untuk menyembah, dalam Keluaran 30:17-21, Allah memerintahkan Musa untuk membuat sebuah peraturan bagi keimamatan yang berhubungan dengan bejana pembasuhan dari tembaga ini.
Para imam diharuskan membasuh tangan dan kaki mereka sebelum mereka dapat melayani dihadapan Tuhan. Tangan dan kaki mereka sama seperti tangan dan kaki kita, adalah bagian-bagian yang telah menjamah hal-hal yang ada didunia ini. Tangan dan kaki adalah simbol dari keterbukaan kita kepada dunia tempat dimana kita hidup, yang dipenuhi dengan dosa dan kejatuhan.
Pada hari-hari ketika bangsa Israel menyembah Allah di dalam Tabernakel dan di dalam Bait Allah, para imam harus melalui suatu pembasuhan ritual sebelum mereka diizinkan melayani Tuhan untuk kepentingan orang-orang Israel. Mereka harus melakukan hal tersebut tanpa salah kalau tidak penghakiman akan datang dan mereka pasti akan mati.
Firman Tuhan katakan: “Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki dengan air, supaya mereka jangan mati. Demikian juga apabila mereka datang ke mezbah itu untuk menyelenggarakan kebaktian dan untuk membakar korban api-apian bagi TUHAN, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki mereka, supaya mereka jangan mati. Itulah yang harus menjadi ketetapan bagi mereka untuk selama-lamanya, bagi dia dan bagi keturunannya turun-temurun” (Keluaran 30:20).
Pembersihan oleh air dan Firman Allah tidak hanya terjadi pada pengalaman keselamatan saja tetapi harus terjadi secara terus-menerus. Kita membutuhkan pembasuhan terus-menerus dari Firman Allah untuk menjaga kita tetap kita bersih dan murni dari dosa dan semua pengaruh-pengaruh dunia ini juga untuk mengalami kepenuhan hidup Yesus di dalam diri kita.
Pelayanan kita kepada orang lain haruslah dengan tangan yang bersih dan hati yang murni dengan tujuan untuk memuliakan nama Tuhan karena Allah menunjukkan penghukuman yang keras berupa kematian kepada imam yang tidak melakukan pembasuhan tidak terkecuali kepada kita yang telah mengenal kebenaran Firman Tuhan.
Dengan cara yang sama, Allah memanggil kita agar kita tetap hidup bebas dari “Kematian” rohani yang terjadi karena kita tidak melakukan pembasuhan yang rutin oleh Firman Allah.
Kita harus disiplin dalam pembacaan dan perenungan Firman Allah setiap hari agar dibersihkan dan menerima kehidupan dan kekuatan rohani. Prinsip Alkitabiah bahwa apapun yang terdapat dalam kehidupan rohani seorang pemimpin (Kepala Keluarga) dapat ditiru oleh pengikut-pengikutnya, bila jemaat di bersihkan, dipenuhi dengan kehidupan dan kuasa dari Firman Allah, diurapi oleh Roh Kudus, mereka akan sanggup melayani keluarga, gereja…bahkan dunia dengan cara yang luar biasa.
Dalam 2 Tawarikh 4 diceritakan: “Lalu ia membuat mezbah tembaga yang dua puluh hasta panjangnya, dan dua puluh hasta lebarnya dan sepuluh hasta tingginya. Kemudian dibuatnyalah "laut" tuangan yang sepuluh hasta dari tepi ke tepi, bundar keliling, lima hasta tingginya, dan yang dapat dililit berkeliling oleh tali yang tiga puluh hasta panjangnya.
Di sebelah bawah tepinya ada gambar lembu-lembu yang mengelilinginya sama sekali, sepuluh dalam sehasta, merangkum "laut" itu berkeliling; lembu itu dua jajar, dituang setuangan dengan bejana itu. "Laut" itu menumpang di atas dua belas lembu, tiga menghadap ke utara dan tiga menghadap ke barat, tiga menghadap ke selatan dan tiga menghadap ke timur; "laut" itu menumpang di atasnya, sedang segala buntut lembu itu menuju ke dalam.
Tebal "laut" itu setapak tangan dan tepinya serupa tepi piala, seperti bunga bakung yang berkembang. "Laut" itu dapat memuat tiga ribu bat air. Lagipula dibuatnya sepuluh bejana pembasuhan dan ditaruhnya lima pada sisi kanan dan lima pada sisi kiri sebagai tempat pembasuhan; di situ orang membasuh apa yang diperlukan untuk korban bakaran, sedang "laut" itu adalah untuk para imam sebagai tempat membasuh.
Ia membuat sepuluh kandil emas sesuai dengan rancangannya dan menaruhnya di dalam Bait Suci, lima di sebelah kanan dan lima di sebelah kiri. Selanjutnya ia membuat sepuluh meja dan menempatkannya di dalam Bait Suci, lima di sebelah kanan dan lima di sebelah kiri; ia membuat pula seratus bokor penyiraman dari emas. Ia membuat juga pelataran para imam, halaman besar dan pintu-pintu halaman itu; pintu-pintu itu dilapisinya dengan tembaga. "Laut" itu ditaruhnya pada sisi kanan, arah tenggara. Dan Huram membuat juga kuali-kuali, penyodok-penyodok dan bokor-bokor penyiraman.
Demikianlah Huram menyelesaikan pekerjaan yang harus dilakukannya bagi raja Salomo di rumah Allah, yakni kedua tiang, dengan kedua bulatan ganja di kepala tiang itu, kedua jala-jala yang menutup kedua bulatan ganja itu; keempat ratus buah delima untuk kedua jala-jala itu, dua jajar buah delima untuk satu jala-jala guna menutupi kedua bulatan ganja yang di atas tiang itu.
Juga telah dibuatnya kereta-kereta penopang dan bejana-bejana pembasuhan yang di atas kereta-kereta itu; "laut" yang satu itu dan kedua belas lembu di bawahnya. Kuali-kuali, penyodok-penyodok, garpu-garpu dan segala perlengkapan lain yang dibuat Huram-Abi bagi raja Salomo untuk rumah TUHAN adalah dari tembaga upaman. Raja menuang semuanya itu di Lembah Yordan di dalam tanah liat antara Sukot dan Zereda.
Salomo membuat segala perlengkapan itu dalam jumlah yang amat besar, sehingga berat tembaga itu tidaklah terhitung. Salomo membuat juga segala perlengkapan yang ada di rumah Allah, yakni mezbah dan meja-meja tempat menaruh roti sajian, lagipula kandil-kandil dari emas murni dengan pelita-pelitanya, untuk dinyalakan di depan ruang belakang sesuai dengan peraturan; kembang-kembangnya, pelita-pelitanya dan sepit-sepitnya, dari emas, semuanya dari emas murni; pisau-pisaunya, bokor-bokor penyiramannya, cawan-cawannya dan perbaraan-perbaraannya, dari emas murni; juga pintu masuk rumah itu, dan pintu-pintu yang di sebelah dalam ke tempat maha kudus, dan pintu-pintu ke ruang besar Bait Suci, semuanya dari emas.
Bejana Pembasuhan yang terbuat dari tembaga ini diletakkan pada tempat khusus baik di Tabernakel maupun di Bait Allah. Posisinya berada diantara para penyembah dan seluruh bagian Tabernakel yang lain dan memberi arti pembersihan. Seorang penyembah diwajibkan untuk membasuh dirinya sebelum diizinkan masuk untuk menyembah, dalam Keluaran 30:17-21, Allah memerintahkan Musa untuk membuat sebuah peraturan bagi keimamatan yang berhubungan dengan bejana pembasuhan dari tembaga ini.
Para imam diharuskan membasuh tangan dan kaki mereka sebelum mereka dapat melayani dihadapan Tuhan. Tangan dan kaki mereka sama seperti tangan dan kaki kita, adalah bagian-bagian yang telah menjamah hal-hal yang ada didunia ini. Tangan dan kaki adalah simbol dari keterbukaan kita kepada dunia tempat dimana kita hidup, yang dipenuhi dengan dosa dan kejatuhan.
Pada hari-hari ketika bangsa Israel menyembah Allah di dalam Tabernakel dan di dalam Bait Allah, para imam harus melalui suatu pembasuhan ritual sebelum mereka diizinkan melayani Tuhan untuk kepentingan orang-orang Israel. Mereka harus melakukan hal tersebut tanpa salah kalau tidak penghakiman akan datang dan mereka pasti akan mati.
Firman Tuhan katakan: “Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki dengan air, supaya mereka jangan mati. Demikian juga apabila mereka datang ke mezbah itu untuk menyelenggarakan kebaktian dan untuk membakar korban api-apian bagi TUHAN, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki mereka, supaya mereka jangan mati. Itulah yang harus menjadi ketetapan bagi mereka untuk selama-lamanya, bagi dia dan bagi keturunannya turun-temurun” (Keluaran 30:20).
Pembersihan oleh air dan Firman Allah tidak hanya terjadi pada pengalaman keselamatan saja tetapi harus terjadi secara terus-menerus. Kita membutuhkan pembasuhan terus-menerus dari Firman Allah untuk menjaga kita tetap kita bersih dan murni dari dosa dan semua pengaruh-pengaruh dunia ini juga untuk mengalami kepenuhan hidup Yesus di dalam diri kita.
Pelayanan kita kepada orang lain haruslah dengan tangan yang bersih dan hati yang murni dengan tujuan untuk memuliakan nama Tuhan karena Allah menunjukkan penghukuman yang keras berupa kematian kepada imam yang tidak melakukan pembasuhan tidak terkecuali kepada kita yang telah mengenal kebenaran Firman Tuhan.
Dengan cara yang sama, Allah memanggil kita agar kita tetap hidup bebas dari “Kematian” rohani yang terjadi karena kita tidak melakukan pembasuhan yang rutin oleh Firman Allah.
Kita harus disiplin dalam pembacaan dan perenungan Firman Allah setiap hari agar dibersihkan dan menerima kehidupan dan kekuatan rohani. Prinsip Alkitabiah bahwa apapun yang terdapat dalam kehidupan rohani seorang pemimpin (Kepala Keluarga) dapat ditiru oleh pengikut-pengikutnya, bila jemaat di bersihkan, dipenuhi dengan kehidupan dan kuasa dari Firman Allah, diurapi oleh Roh Kudus, mereka akan sanggup melayani keluarga, gereja…bahkan dunia dengan cara yang luar biasa.
Bitterness
Bitterness often lies behind our inability to forgive and be forgiven. It is a vandal who reject the existence of peace and prosperity of us and destroy our relationship with God and our neighbor. The Bible warns us about the roots of bitterness, “Take care lest one get away from the grace of God, so do not grow roots of bitterness led to riots and which contaminate many” (Hebrews 12:15).
Sometimes the root of bitterness that developed over the weeks, months and even years, maybe we can hide it by camouflaging a variety of other attitudes, which sometimes can not be known by others but we can not hide our bitterness toward God or even from the bitterness of our own bodies so that we can often be reflected in our attitude is full of anger, full of lust, slander, and revenge.
Bitterness never be built, the bitterness is always destructive, no matter whatever made people to us or how poorly, and often they do to us, bitterness never be acceptable in the sight of God. Nothing good has ever come from bitterness.
We must be careful not to let bitterness take root in our lives, like the roots that have smooth edges to reach the water in order to grow, so too the root of bitterness has smooth branches to reach the lands of our hearts to make us slaves who would undermine our emotional life.
Bitterness can cause physical illness, the longer the medical experts began to see the kind of link between how our bodies work and how we think. Bitterness, anger and other negative emotions have been associated with glandular tissue problems, high blood pressure, heart problems, peptic ulcers and a number of other physical illnesses.
The bitterness may also cause distress to someone and defame others, we keep the bitterness that would sully our relationship with our spouse or our neighbor, this is why there is so much separation, divorce and a messy household even when we want to love others, we can not do it, the parents wonder why they can not love their children, otherwise the children wonder why they can not love their parents. Are not aware they have started stacking it in the root of bitterness any anger, because there is distrust one another, and each began to build emotional walls is hard to penetrate.
Destruction because the bitterness is clearly illustrated in the life of King Saul, who began his reign as a ruler who respected and liked, but ended his life in defeat, grief and suicide. The destruction of the spirit of bitterness towards David and to God is a means of supporting the death. (1 Samuel 18:1-7). When the root of bitterness has grown old, not always be immediate removal. A husband and wife who decide to reconcile after a separation can be with each other honestly confess and repent of their sins, but a full recovery comes gradually.
Healing the spirit sometimes takes longer, we may have to live with the damaged emotions for years, perhaps since childhood. But as children of God, we have the ability to forgive and remove the bitterness of our life even though it causes us to experience a lot of loss or shame, because if we do not forgive then we will not be able to love. Luke 6:36-37 says: “Be ye merciful, even as your Father is generous. Do not be judgmental, so ye also will not be judged. And do not punish, then ye also will not be punished; forgive and ye shall be forgiven.
“We only have two choices, we can let bitterness destroy us or we can invite God to develop us into the person who according to His will. “But I’m alive, but no longer I who live, but Christ lives in me. The life which I now live in the flesh I live by faith in the Son of God, who loved me and gave Himself for me. “(Galatians 2:20).
Sometimes the root of bitterness that developed over the weeks, months and even years, maybe we can hide it by camouflaging a variety of other attitudes, which sometimes can not be known by others but we can not hide our bitterness toward God or even from the bitterness of our own bodies so that we can often be reflected in our attitude is full of anger, full of lust, slander, and revenge.
Bitterness never be built, the bitterness is always destructive, no matter whatever made people to us or how poorly, and often they do to us, bitterness never be acceptable in the sight of God. Nothing good has ever come from bitterness.
We must be careful not to let bitterness take root in our lives, like the roots that have smooth edges to reach the water in order to grow, so too the root of bitterness has smooth branches to reach the lands of our hearts to make us slaves who would undermine our emotional life.
Bitterness can cause physical illness, the longer the medical experts began to see the kind of link between how our bodies work and how we think. Bitterness, anger and other negative emotions have been associated with glandular tissue problems, high blood pressure, heart problems, peptic ulcers and a number of other physical illnesses.
The bitterness may also cause distress to someone and defame others, we keep the bitterness that would sully our relationship with our spouse or our neighbor, this is why there is so much separation, divorce and a messy household even when we want to love others, we can not do it, the parents wonder why they can not love their children, otherwise the children wonder why they can not love their parents. Are not aware they have started stacking it in the root of bitterness any anger, because there is distrust one another, and each began to build emotional walls is hard to penetrate.
Destruction because the bitterness is clearly illustrated in the life of King Saul, who began his reign as a ruler who respected and liked, but ended his life in defeat, grief and suicide. The destruction of the spirit of bitterness towards David and to God is a means of supporting the death. (1 Samuel 18:1-7). When the root of bitterness has grown old, not always be immediate removal. A husband and wife who decide to reconcile after a separation can be with each other honestly confess and repent of their sins, but a full recovery comes gradually.
Healing the spirit sometimes takes longer, we may have to live with the damaged emotions for years, perhaps since childhood. But as children of God, we have the ability to forgive and remove the bitterness of our life even though it causes us to experience a lot of loss or shame, because if we do not forgive then we will not be able to love. Luke 6:36-37 says: “Be ye merciful, even as your Father is generous. Do not be judgmental, so ye also will not be judged. And do not punish, then ye also will not be punished; forgive and ye shall be forgiven.
“We only have two choices, we can let bitterness destroy us or we can invite God to develop us into the person who according to His will. “But I’m alive, but no longer I who live, but Christ lives in me. The life which I now live in the flesh I live by faith in the Son of God, who loved me and gave Himself for me. “(Galatians 2:20).
Kepahitan
Kepahitan sering terletak di balik ketidaksanggupan kita untuk mengampuni dan diampuni, itu adalah perusak yang menolak adanya kedamaian dan kesejahtraan kita dan menghancurkan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama kita.
Alkitab memperingatkan kita tentang akar kepahitan, “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang” (Ibrani 12:15).
Kadang akar pahit itu dikembangkan selama berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun, mungkin kita dapat menyembunyikannya dengan menyamarkannya menjadi berbagai sikap yang lain, yang kadang tidak dapat di ketahui oleh orang lain tetapi kita tidak dapat menyembunyikan kepahitan kita di hadapan Allah atau bahkan dari tubuh kita sendiri sehingga kepahitan kita sering dapat tercermin dari sikap kita yang penuh amarah, penuh nafsu, fitnah, dan dendam.
Kepahitan tak pernah bersifat membangun, kepahitan selalu bersifat merusak, tidak menjadi soal apapun yang dibuat orang kepada kita atau betapa buruk dan seringnya mereka lakukan pada kita, kepahitan tak pernah dapat diterima di hadapan Allah. Tiada kebaikan yang pernah terbit dari kepahitan.
Kita harus hati-hati agar jangan membiarkan kepahitan berakar dalam hidup kita, bagaikan akar yang mempunyai cabang-cabang yang halus untuk menjangkau air agar dapat bertumbuh, demikian pula akar kepahitan mempunyai cabang-cabang yang halus untuk menjangkau tanah-tanah hati kita untuk menjadikan kita budak emosional yang akan mengerogoti kita seumur hidup.
Kepahitan bisa mengakibatkan penyakit fisik, semakin lama para ahli kedokteran mulai melihat semacam mata rantai antara cara kerja tubuh kita dan cara kita berpikir. Kepahitan, kemarahan, dan emosi negatif lainnya telah dikaitkan dengan masalah jaringan kelenjar, tekanan darah tinggi, gangguan jantung, tukak lambung dan sejumlah penyakit fisik lainnya.
Kepahitan juga dapat menyebabkan kesusahan kepada seseorang dan mencemarkan orang lain, kepahitan yang kita pelihara akan menodai hubungan kita dengan pasangan kita atau sesama kita, inilah sebabnya terdapat begitu banyak perpisahan, perceraian, dan rumah tangga yang berantakan bahkan ketika kita ingin mengasihi orang lain, kita tidak dapat melakukannya, para orangtua merasa heran mengapa mereka tak dapat mengasihi anak-anak mereka, sebaliknya anak-anak merasa heran mengapa mereka tak dapat mengasihi orangtua mereka. Secara tidak sadar mereka sudah mulai menumpuk akar kepahitan itu dalam setiap amarah, karena ada ketidakpercayaan satu dengan yang lainnya, dan masing-masing mulai membangun tembok-tembok emosional yang sukar untuk ditembus.
Kehancuran karena kepahitan dengan jelas dilukiskan dalam kehidupan raja Saul, yang mengawali pemerintahannya sebagai seorang penguasa yang terhormat dan disukai tetapi mengakhiri hidupnya dalam kekalahan, dukacita dan bunuh diri. Kehancuran dari roh kepahitan terhadap Daud dan terhadap Allah merupakan sarana penunjang dalam kematiannya. (1 Samuel 18:1-7).
Bila akar kepahitan telah bertumbuh lama, penyingkirannya tidak selalu bersifat segera. Seorang suami dan istri yang memutuskan untuk rujuk kembali setelah berpisah dapat dengan jujur saling mengaku dan bertobat dari dosa mereka, tetapi pemulihan penuh datang berangsur-angsur. Penyembuhan roh terkadang membutuhkan waktu yang lebih lama, kita mungkin telah hidup dengan emosi yang rusak selama bertahun-tahun, barangkali sejak masa kanak-kanak.
Namun sebagai anak-anak Allah, kita mempunyai kemampuan untuk mengampuni dan mencabut kepahitan dari hidup kita walaupun itu menyebabkan kita mengalami banyak kehilangan atau dipermalukan, karena jika kita tidak mengampuni maka kita tidak akan dapat mencintai.
Lukas 6:36-37 mengatakan; “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.” Kita hanya mempunyai dua pilihan, kita dapat membiarkan kepahitan menghancurkan kita atau kita dapat mempersilahkan Allah mengembangkan kita menjadi pribadi yang sesuai dengan kehendak-Nya.
“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20).
Alkitab memperingatkan kita tentang akar kepahitan, “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang” (Ibrani 12:15).
Kadang akar pahit itu dikembangkan selama berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun, mungkin kita dapat menyembunyikannya dengan menyamarkannya menjadi berbagai sikap yang lain, yang kadang tidak dapat di ketahui oleh orang lain tetapi kita tidak dapat menyembunyikan kepahitan kita di hadapan Allah atau bahkan dari tubuh kita sendiri sehingga kepahitan kita sering dapat tercermin dari sikap kita yang penuh amarah, penuh nafsu, fitnah, dan dendam.
Kepahitan tak pernah bersifat membangun, kepahitan selalu bersifat merusak, tidak menjadi soal apapun yang dibuat orang kepada kita atau betapa buruk dan seringnya mereka lakukan pada kita, kepahitan tak pernah dapat diterima di hadapan Allah. Tiada kebaikan yang pernah terbit dari kepahitan.
Kita harus hati-hati agar jangan membiarkan kepahitan berakar dalam hidup kita, bagaikan akar yang mempunyai cabang-cabang yang halus untuk menjangkau air agar dapat bertumbuh, demikian pula akar kepahitan mempunyai cabang-cabang yang halus untuk menjangkau tanah-tanah hati kita untuk menjadikan kita budak emosional yang akan mengerogoti kita seumur hidup.
Kepahitan bisa mengakibatkan penyakit fisik, semakin lama para ahli kedokteran mulai melihat semacam mata rantai antara cara kerja tubuh kita dan cara kita berpikir. Kepahitan, kemarahan, dan emosi negatif lainnya telah dikaitkan dengan masalah jaringan kelenjar, tekanan darah tinggi, gangguan jantung, tukak lambung dan sejumlah penyakit fisik lainnya.
Kepahitan juga dapat menyebabkan kesusahan kepada seseorang dan mencemarkan orang lain, kepahitan yang kita pelihara akan menodai hubungan kita dengan pasangan kita atau sesama kita, inilah sebabnya terdapat begitu banyak perpisahan, perceraian, dan rumah tangga yang berantakan bahkan ketika kita ingin mengasihi orang lain, kita tidak dapat melakukannya, para orangtua merasa heran mengapa mereka tak dapat mengasihi anak-anak mereka, sebaliknya anak-anak merasa heran mengapa mereka tak dapat mengasihi orangtua mereka. Secara tidak sadar mereka sudah mulai menumpuk akar kepahitan itu dalam setiap amarah, karena ada ketidakpercayaan satu dengan yang lainnya, dan masing-masing mulai membangun tembok-tembok emosional yang sukar untuk ditembus.
Kehancuran karena kepahitan dengan jelas dilukiskan dalam kehidupan raja Saul, yang mengawali pemerintahannya sebagai seorang penguasa yang terhormat dan disukai tetapi mengakhiri hidupnya dalam kekalahan, dukacita dan bunuh diri. Kehancuran dari roh kepahitan terhadap Daud dan terhadap Allah merupakan sarana penunjang dalam kematiannya. (1 Samuel 18:1-7).
Bila akar kepahitan telah bertumbuh lama, penyingkirannya tidak selalu bersifat segera. Seorang suami dan istri yang memutuskan untuk rujuk kembali setelah berpisah dapat dengan jujur saling mengaku dan bertobat dari dosa mereka, tetapi pemulihan penuh datang berangsur-angsur. Penyembuhan roh terkadang membutuhkan waktu yang lebih lama, kita mungkin telah hidup dengan emosi yang rusak selama bertahun-tahun, barangkali sejak masa kanak-kanak.
Namun sebagai anak-anak Allah, kita mempunyai kemampuan untuk mengampuni dan mencabut kepahitan dari hidup kita walaupun itu menyebabkan kita mengalami banyak kehilangan atau dipermalukan, karena jika kita tidak mengampuni maka kita tidak akan dapat mencintai.
Lukas 6:36-37 mengatakan; “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.” Kita hanya mempunyai dua pilihan, kita dapat membiarkan kepahitan menghancurkan kita atau kita dapat mempersilahkan Allah mengembangkan kita menjadi pribadi yang sesuai dengan kehendak-Nya.
“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20).
Death Flesh
Once a year the high priest of Israel would leave the house with a heavy heart, to enter into the tent of meeting. The Jews were very careful in terms of preventing major impurity so that a priest was not allowed to sleep the night before he crossed the veil of the temple of God, while the other priests who continue to read the law to him so he will not, unintentionally, defame himself through dreams at night.
Allegorically when the time comes, the high priest would be careful to dip his finger in the warm blood of victims of goats or sheep and putting on her earlobe, thumb and heel-heels. Symbolically he is showing himself as a man who died so that he can draw close to God's glory and stay alive, then he must take place brazier containing hot coals at the bottom.
Priest is going to take a handful of incense of perfume and put it on the fire, which then creates a thick smoke that smells fragrant. The priest will place the hearth beneath the veil and fanning the smoke filled the space until the Holy One, then he would lift the basic folds of the heavy veil and crawled into the room with fear and trembling Glory, accompanied with high hopes to get back to life.
Smoke that is the last protection system to protect the meat from the holiness of God, the priests from the lineage of Aaron, knowing that God is holy, while humans do not, they understand that the meat will soon perish if he met with the glory of God without a safety or sheathing.
From generation to generation, Christians have prayed to God to come closer to them but what God wanted was "If you want to know me, then all things must die first." God can not visit the meat that is still alive because it earthly smell. He can only visit the meat of the dead, which is why repentance and smash the liver which is the concept of a parallel New Testament manifestation of God's presence brings death becomes closer.
But maybe we are more often to avoid repentance because we never like to be the smell of death, to make our flesh to die is the hardest thing to do, because the joy will be all the fun things in this world often makes us forget that we've been invited by God to entered in the glory of God, through communion with the Holy Spirit.
Things that are loved by God and the things that we like are almost always two different things. As we often organize worship-worship service in such a way that it becomes a fun-worship of the human heart, fun our flesh, we are set to tickle the ears of people in the sermons that funny, even we want the church to have a high level of entertainment list, so they do not leave us.
No matter whoever we are, whatever we do or any church tradition that we hold, the only way to get through the veil that is through the death of our flesh. Death in a real repentance and smash the heart before God will allow Him to draw near to us, the Apostle Paul says in 1 Corinthians 13:12, "For now we see in a mirror dimly, but then we shall see face to face. Now I know only imperfectly, but I'll know it perfectly, like myself known. "
At that time we will know who the Lord in full size, in the same manner also He knows who we are in full size, because nothing can live in His presence without holiness, the only thing that can keep perishable alive and standing in His presence the statement was dead meat the man who in repentance and fill it with a broken heart before God.
Allegorically when the time comes, the high priest would be careful to dip his finger in the warm blood of victims of goats or sheep and putting on her earlobe, thumb and heel-heels. Symbolically he is showing himself as a man who died so that he can draw close to God's glory and stay alive, then he must take place brazier containing hot coals at the bottom.
Priest is going to take a handful of incense of perfume and put it on the fire, which then creates a thick smoke that smells fragrant. The priest will place the hearth beneath the veil and fanning the smoke filled the space until the Holy One, then he would lift the basic folds of the heavy veil and crawled into the room with fear and trembling Glory, accompanied with high hopes to get back to life.
Smoke that is the last protection system to protect the meat from the holiness of God, the priests from the lineage of Aaron, knowing that God is holy, while humans do not, they understand that the meat will soon perish if he met with the glory of God without a safety or sheathing.
From generation to generation, Christians have prayed to God to come closer to them but what God wanted was "If you want to know me, then all things must die first." God can not visit the meat that is still alive because it earthly smell. He can only visit the meat of the dead, which is why repentance and smash the liver which is the concept of a parallel New Testament manifestation of God's presence brings death becomes closer.
But maybe we are more often to avoid repentance because we never like to be the smell of death, to make our flesh to die is the hardest thing to do, because the joy will be all the fun things in this world often makes us forget that we've been invited by God to entered in the glory of God, through communion with the Holy Spirit.
Things that are loved by God and the things that we like are almost always two different things. As we often organize worship-worship service in such a way that it becomes a fun-worship of the human heart, fun our flesh, we are set to tickle the ears of people in the sermons that funny, even we want the church to have a high level of entertainment list, so they do not leave us.
No matter whoever we are, whatever we do or any church tradition that we hold, the only way to get through the veil that is through the death of our flesh. Death in a real repentance and smash the heart before God will allow Him to draw near to us, the Apostle Paul says in 1 Corinthians 13:12, "For now we see in a mirror dimly, but then we shall see face to face. Now I know only imperfectly, but I'll know it perfectly, like myself known. "
At that time we will know who the Lord in full size, in the same manner also He knows who we are in full size, because nothing can live in His presence without holiness, the only thing that can keep perishable alive and standing in His presence the statement was dead meat the man who in repentance and fill it with a broken heart before God.
Kematian Daging
Satu tahun sekali imam besar Israel akan meninggalkan rumah dengan hati yang berat, untuk masuk dalam kemah pertemuan. Orang-orang Yahudi sangat berhati-hati dalam hal mencegah kecemaran terjadi sehingga imam besar tidak diizinkan untuk tidur semalam sebelum dia melintasi tabir bait Allah, sementara imam-imam yang lain terus membacakan hukum taurat kepadanya supaya dia tidak, secara tidak sengaja, mencemarkan dirinya sendiri melalui mimpi di malam hari.
Secara alegoris ketika saatnya tiba, imam besar akan berhati-hati mencelupkan jarinya ke dalam darah yang hangat dari korban kambing atau domba dan memoleskan pada daun telinganya, ibu jari dan tumit-tumitnya. Secara simbolis dia sedang menampilkan dirinya sebagai orang yang mati supaya dia dapat mendekat pada kemuliaan Tuhan dan tetap hidup, selanjutnya dia harus mengambil tempat perbaraan yang berisi bara api yang panas di dasarnya.
Imam itu akan mengambil segenggam ukupan dari wangi-wangian dan meletakkannya di atas bara api tersebut yang kemudian menciptakan segumpal asap tebal yang berbau wangi. Imam akan menempatkan perbaraan tersebut di bawah tabir dan mengipasinya sampai asap memenuhi ruang Mahasuci, kemudian dia akan mengangkat lipatan dasar dari tabir yang berat itu dan merangkak masuk ke ruang Mahasuci dengan takut dan gemetar, disertai dengan harapan besar agar dapat kembali dengan hidup.
Gumpalan asap itu merupakan sistem perlindungan yang terakhir untuk melindungi dagingnya dari kekudusan Tuhan, imam-imam dari garis keturunan Harun mengetahui bahwa Tuhan adalah kudus dan sementara manusia tidak, mereka memahami bahwa daging akan segera binasa jika ia bertemu dengan kemuliaan Tuhan tanpa pengaman atau selubung.
Dari generasi ke generasi orang-orang Kristen telah berdoa supaya Tuhan datang mendekat kepada mereka tapi apa yang Tuhan inginkan adalah “Jika engkau ingin mengenal-Ku, maka segala segala sesuatu harus mati terlebih dahulu.” Tuhan tidak dapat mengunjungi daging yang masih hidup karena itu berbau duniawi. Dia hanya dapat mengunjungi daging yang mati, itulah sebabnya pertobatan dan keremukan hati yang merupakan konsep Perjanjian Baru yang sejajar dengan kematian membawa manifestasi hadirat Tuhan menjadi lebih dekat lagi.
Tetapi mungkin kita lebih sering menghindari pertobatan sebab kita tidak pernah suka akan aroma kematian, membuat kedagingan kita mati adalah hal yang paling berat untuk kita lakukan, karena kesukaan akan segala hal yang menyenangkan di dunia ini sering membuat kita lupa bahwa kita sudah diundang oleh Allah untuk masuk dalam kemuliaan Tuhan, lewat persekutuan dengan Roh Kudus.
Hal-hal yang disukai oleh Tuhan dan hal-hal yang kita sukai hampir selalu merupakan dua hal yang berbeda. Seperti, kita sering mengatur kebaktian-kebaktian sedemikian rupa sehingga menjadi kebaktian-kebaktian yang menyenangkan hati manusia, menyenangkan kedagingan kita, kita mengaturnya untuk menggelitik telinga orang dalam khotbah-khotbah yang lucu, bahkan kita menginginkan jemaat memiliki daftar hiburan tingkat tinggi, supaya mereka tidak meninggalkan kita.
Tidak peduli siapapun kita, apapun yang telah kita kerjakan atau tradisi gereja apapun yang kita pegang, satu-satunya jalan untuk melewati tabir itu adalah melalui kematian daging kita. Kematian dalam pertobatan yang sungguh dan keremukan hati di hadapan Tuhan akan mengizinkan Dia untuk mendekat kepada kita, Rasul Paulus berkata dalam 1 Korintus 13:12, “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.”
Pada saat itu kita akan mengenal siapa Tuhan dalam ukuran yang penuh, dalam cara yang sama Dia mengenal juga siapa kita dalam ukuran yang penuh, karena tidak ada apapun yang dapat hidup dalam hadirat-Nya tanpa kesucian, satu-satunya hal yang fana yang dapat tetap hidup dan berdiri dalam pernyataan hadirat-Nya adalah daging yang mati yaitu manusia yang dalam pertobatan yang sungguh dan penuhi dengan hati yang hancur dihadapan Tuhan.
Secara alegoris ketika saatnya tiba, imam besar akan berhati-hati mencelupkan jarinya ke dalam darah yang hangat dari korban kambing atau domba dan memoleskan pada daun telinganya, ibu jari dan tumit-tumitnya. Secara simbolis dia sedang menampilkan dirinya sebagai orang yang mati supaya dia dapat mendekat pada kemuliaan Tuhan dan tetap hidup, selanjutnya dia harus mengambil tempat perbaraan yang berisi bara api yang panas di dasarnya.
Imam itu akan mengambil segenggam ukupan dari wangi-wangian dan meletakkannya di atas bara api tersebut yang kemudian menciptakan segumpal asap tebal yang berbau wangi. Imam akan menempatkan perbaraan tersebut di bawah tabir dan mengipasinya sampai asap memenuhi ruang Mahasuci, kemudian dia akan mengangkat lipatan dasar dari tabir yang berat itu dan merangkak masuk ke ruang Mahasuci dengan takut dan gemetar, disertai dengan harapan besar agar dapat kembali dengan hidup.
Gumpalan asap itu merupakan sistem perlindungan yang terakhir untuk melindungi dagingnya dari kekudusan Tuhan, imam-imam dari garis keturunan Harun mengetahui bahwa Tuhan adalah kudus dan sementara manusia tidak, mereka memahami bahwa daging akan segera binasa jika ia bertemu dengan kemuliaan Tuhan tanpa pengaman atau selubung.
Dari generasi ke generasi orang-orang Kristen telah berdoa supaya Tuhan datang mendekat kepada mereka tapi apa yang Tuhan inginkan adalah “Jika engkau ingin mengenal-Ku, maka segala segala sesuatu harus mati terlebih dahulu.” Tuhan tidak dapat mengunjungi daging yang masih hidup karena itu berbau duniawi. Dia hanya dapat mengunjungi daging yang mati, itulah sebabnya pertobatan dan keremukan hati yang merupakan konsep Perjanjian Baru yang sejajar dengan kematian membawa manifestasi hadirat Tuhan menjadi lebih dekat lagi.
Tetapi mungkin kita lebih sering menghindari pertobatan sebab kita tidak pernah suka akan aroma kematian, membuat kedagingan kita mati adalah hal yang paling berat untuk kita lakukan, karena kesukaan akan segala hal yang menyenangkan di dunia ini sering membuat kita lupa bahwa kita sudah diundang oleh Allah untuk masuk dalam kemuliaan Tuhan, lewat persekutuan dengan Roh Kudus.
Hal-hal yang disukai oleh Tuhan dan hal-hal yang kita sukai hampir selalu merupakan dua hal yang berbeda. Seperti, kita sering mengatur kebaktian-kebaktian sedemikian rupa sehingga menjadi kebaktian-kebaktian yang menyenangkan hati manusia, menyenangkan kedagingan kita, kita mengaturnya untuk menggelitik telinga orang dalam khotbah-khotbah yang lucu, bahkan kita menginginkan jemaat memiliki daftar hiburan tingkat tinggi, supaya mereka tidak meninggalkan kita.
Tidak peduli siapapun kita, apapun yang telah kita kerjakan atau tradisi gereja apapun yang kita pegang, satu-satunya jalan untuk melewati tabir itu adalah melalui kematian daging kita. Kematian dalam pertobatan yang sungguh dan keremukan hati di hadapan Tuhan akan mengizinkan Dia untuk mendekat kepada kita, Rasul Paulus berkata dalam 1 Korintus 13:12, “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.”
Pada saat itu kita akan mengenal siapa Tuhan dalam ukuran yang penuh, dalam cara yang sama Dia mengenal juga siapa kita dalam ukuran yang penuh, karena tidak ada apapun yang dapat hidup dalam hadirat-Nya tanpa kesucian, satu-satunya hal yang fana yang dapat tetap hidup dan berdiri dalam pernyataan hadirat-Nya adalah daging yang mati yaitu manusia yang dalam pertobatan yang sungguh dan penuhi dengan hati yang hancur dihadapan Tuhan.
Birth of Christ
Christ was born in the year 5 BC in a small town called Bethlehem. He was not born in a palace but in the sheepfold, and the bed was not the cradle of silk but the manger full of hay. This is the birth of a very simple and contempt for him who is the Son of God and the King of kings.
After Jesus was born in Bethlehem of Judea in the Period of Herod to come was the Magi from the East to Jerusalem and wanted to worship the King of the Jews, the wise men known as "MAGIC" in their original language are priests or wise men or like a party than a necromancer Medes tribes, the kingdom of Persia.
If they do come from Persia, how do they know about the "King of the Jews" (Matthew 2:2), this may happen, when in the area of the Babylonian exile of the Jews to preach to people about the coming of their Messiah Persian. It's very hard to understand how this Magi came to the conclusion that a Great King of the Jews who will be born only to guide the science of astronomy.
Their understanding of this Messianic possibility arises not only because they knew the stars but also the knowledge they will prophecy the old covenant, such as the prophecy of Daniel: "Seventy weeks are determined upon thy people and upon your holy city, to finish the transgression, to an end to sin, to eliminate errors, to bring eternal justice, to fulfill the vision and prophet, and to anoint the most holy.
Then you will know and understand: from the moment the word was out, namely, that Jerusalem would be restored and rebuilt, until the coming of an anointed one, a king, there are seven times seven times; and sixty-two times seven times the length of the city will be rebuilt with terrain and its moat, but in the midst of adversity.
After sixty-two times seven days it will cut off a man who has been anointed, but not for anything. Then came the people of the prince shall destroy the city and the sanctuary, but the king would meet his death in the flood, and till the end of time there will be war and destruction, as specified. (Daniel 9:24-26), compared with 24 Numbers : 17, Matthew 2:16.
The appearance of the miraculous star that forced them to conclude that the time has arrived. Holy Spirit lead them in determining the timing of the prophecy and this phenomenon.
After a given location, the Magi set out to find the King who has been born, if we note that they found Jesus in the house. Matthew 2:11 says: "So they entered into the house and saw the child with Mary his mother, then fall down and worship Him. They also opened a place of their possessions and offered sacrifices to Him, namely gold, frankincense and myrrh. "
Jesus was no longer in the stable, sheep. It was obvious that the Magi did not arrive at the time of Jesus' birth but shortly thereafter.The possibility for some time after the birth of Jesus, Joseph and Mary had found laying on a nice place. Jesus also declared a "child" who is probably already one year old (cf. Luke 2:22, Matthew 2:16).
King Herod the Great wanted to kill the infant king. Joseph commanded the angels of God to bring the baby Jesus and Mary went to Egypt to save themselves, it's ironic that Jesus had to flee to Egypt, where God through Moses to lead his people out of the land of slavery to the promised land of abundant honey and milk.
Land of Israel should be the safest area for the infant Christ, the land that has given Himself to His People but this area has become the most dangerous areas and now Egypt became the most safe area for him. Did Jesus come at the right time? Yes indeed ...!. As Paul says that He came "after even-time" (But after even the time, God sent forth his Son, born of a woman and subject to the law of the Torah. He was sent to redeem them, which is subject to the law, so that we received a child). Galatians 4:4.
He comes when the people of Israel and the world is in desperate need of Him, at the time the trust the people of Israel are at their lowest and evil of this world are at its peak.
"He already is in the world and the world made by Him, but the world does not know Him" (John 1:10). "But all who received him of his right to become children of God, to those who believe in His name" (John 1:12). Does anyone in the world is a king who tried to come up with a low and despicable manner so? in addition to King Jesus, no! He came only to save us.
After Jesus was born in Bethlehem of Judea in the Period of Herod to come was the Magi from the East to Jerusalem and wanted to worship the King of the Jews, the wise men known as "MAGIC" in their original language are priests or wise men or like a party than a necromancer Medes tribes, the kingdom of Persia.
If they do come from Persia, how do they know about the "King of the Jews" (Matthew 2:2), this may happen, when in the area of the Babylonian exile of the Jews to preach to people about the coming of their Messiah Persian. It's very hard to understand how this Magi came to the conclusion that a Great King of the Jews who will be born only to guide the science of astronomy.
Their understanding of this Messianic possibility arises not only because they knew the stars but also the knowledge they will prophecy the old covenant, such as the prophecy of Daniel: "Seventy weeks are determined upon thy people and upon your holy city, to finish the transgression, to an end to sin, to eliminate errors, to bring eternal justice, to fulfill the vision and prophet, and to anoint the most holy.
Then you will know and understand: from the moment the word was out, namely, that Jerusalem would be restored and rebuilt, until the coming of an anointed one, a king, there are seven times seven times; and sixty-two times seven times the length of the city will be rebuilt with terrain and its moat, but in the midst of adversity.
After sixty-two times seven days it will cut off a man who has been anointed, but not for anything. Then came the people of the prince shall destroy the city and the sanctuary, but the king would meet his death in the flood, and till the end of time there will be war and destruction, as specified. (Daniel 9:24-26), compared with 24 Numbers : 17, Matthew 2:16.
The appearance of the miraculous star that forced them to conclude that the time has arrived. Holy Spirit lead them in determining the timing of the prophecy and this phenomenon.
After a given location, the Magi set out to find the King who has been born, if we note that they found Jesus in the house. Matthew 2:11 says: "So they entered into the house and saw the child with Mary his mother, then fall down and worship Him. They also opened a place of their possessions and offered sacrifices to Him, namely gold, frankincense and myrrh. "
Jesus was no longer in the stable, sheep. It was obvious that the Magi did not arrive at the time of Jesus' birth but shortly thereafter.The possibility for some time after the birth of Jesus, Joseph and Mary had found laying on a nice place. Jesus also declared a "child" who is probably already one year old (cf. Luke 2:22, Matthew 2:16).
King Herod the Great wanted to kill the infant king. Joseph commanded the angels of God to bring the baby Jesus and Mary went to Egypt to save themselves, it's ironic that Jesus had to flee to Egypt, where God through Moses to lead his people out of the land of slavery to the promised land of abundant honey and milk.
Land of Israel should be the safest area for the infant Christ, the land that has given Himself to His People but this area has become the most dangerous areas and now Egypt became the most safe area for him. Did Jesus come at the right time? Yes indeed ...!. As Paul says that He came "after even-time" (But after even the time, God sent forth his Son, born of a woman and subject to the law of the Torah. He was sent to redeem them, which is subject to the law, so that we received a child). Galatians 4:4.
He comes when the people of Israel and the world is in desperate need of Him, at the time the trust the people of Israel are at their lowest and evil of this world are at its peak.
"He already is in the world and the world made by Him, but the world does not know Him" (John 1:10). "But all who received him of his right to become children of God, to those who believe in His name" (John 1:12). Does anyone in the world is a king who tried to come up with a low and despicable manner so? in addition to King Jesus, no! He came only to save us.
Langganan:
Postingan (Atom)
















